Punya Peta di Norwegian Wood

diambil dari eseinosa.tumblr.com
image

Memasuki Norwegian Wood, saya tak tersesat. Berbeda dengan karya-karya Murakami yang lain, dengan surrealisme dan ruang-ruang tak tertebak, Norwegian Wood sama sekali tak menantang. Bukan hanya karena ini karya ‘terpopuler’ dan ‘teringan’ karya Murakami, tapi juga karena untuk pertama kalinya dalam pengalaman saya membaca novel, saya seperti melihat diri saya sendiri. Begitu dekat, namun lebih dramatis. Novel ini membawa saya melihat kembali masa lalu saya sebagai mahasiswa kelas menengah yang terjebak situasi percintaan kacau balau.

Saya tak ingin menceritakan isi novel apalagi curhat colongan terlalu banyak. Saya cuma ingin bilang bahwa saya tidak pernah mengira bahwa pengalaman membaca bisa jadi begini. Begini bagaimana? Begini kira-kira:

Saya orang yang kalau sudah suka pada sebuah buku, saya akan begitu terpengaruh. Membaca Nietzsche membuat saya atheis. Membaca Crime and Punishment Dostoyevski membuat saya sakit beberapa hari seperti tokoh Raskolnikoff di dalam novel itu, membaca Love in The Times of Cholera milik Marquez membuat saya jadi playboy melankolik. Membaca Pram membuat saya kritis dan tenggelam dalam sejarah nasionalisme dan kekiri-kirian (apalah itu). Membaca karya-karya Murakami yang lain juga mengubah saya: ‘What I Talk about when I talk about running,’ membuat saya mulai suka berlari; 1Q84 dan Wind-up Bird Chronicle membuat saya ingin menulis. Tapi belum pernah dalam hidup saya, saya membaca sesuatu yang saya sudah tahu, saya punya petanya di kepala saya. Klise-klise yang begitu pribadi, dan saya seperti ditelanjangi lalu tubuh saya ditoreh-toreh dengan pisau dramatis. Anjing!

Sewaktu umur saya masih awal 20-an, seorang kawan meminjamkan Norwegian Wood dalam bahasa Indonesia pada saya. Saya cuma baca satu bab, karena terjemahannya jelek sekali. Saya ingat waktu itu sedang terkagum-kagum dengan karya-karya sastra modern Jepang seperti Kenzaburo Oe, Yukio Mishima dan Akutagawa. Itu yang membuat saya tergoda untuk baca Murakami. Saya pikir, bahasa Indonesia sajalah, perkenalan. Ketika membaca terjemahan Norwegian Wood dalam bahasa Indonesia yang tone narasinya sama sekali tidak terasa Jepang, tapi sangat Amerika, saya langsung ilfil.

Padahal, kalau saja saya dapat bahasa Inggrisnya waktu itu, saya mungkin bisa menghindari terjebak dalam lubang melankoli yang sama persis seperti Toru Watanabe, tokoh utama di novel itu. Segala percintaan dengan perempuan sakit jiwa, penantian panjang bertahun-tahun, menyakiti orang lain sebagai pelampiasan, dan perjalanan-perjalanan galau yang membuat jadi gembel mungkin tak saya lakukan justru karena tokoh di novel melakukannya. Saya bisa jadi orang yang berbeda.

Lalu apakah saya menyesal? Tidak juga sih. Hidup saya sejauh ini asik-asik saja. Saya cuma mau bilang bahwa novel picisan ini bisa saja membentuk saya dengan berbeda. Tidak seperti karya-karya lain yang saya pernah gandrungi. Ironisnya, saya tidak menggandrungi novel ini. Bukan karena ia terlalu dekat dengan hidup saya, tapi karena isinya seperti plot cerita dalam film hentai. Ganti-ganti perempuan dan gambaran seks yang detil.

Mungkin yang paling bisa saya hargai di novel ini adalah kemudaan dan kenaifan Murakami. Kesan yang saya dapat adalah di sini Murakami masih berusaha mencari gayanya sendiri. Sangat terasa pengaruh Great Gatsby-nya Fitzgerald dan Catcher in the Rye nya Sallinger dalam novel ini. Dengan bumbu seks seperti Henry Miller..Novel ini sangat Amerika.

Dan yang membuat pengalaman membacanya berbeda kemungkinan adalah diri saya sendiri. Referensi baca saya sudah sangat jauh berbeda dengan pemuda gondrong umur 20 tahunan yang gampang kagum dan terbawa buku. Kini saya jauh lebih kritis dan analitis ketika membaca. Saya sudah memahami gaya narasi, dan cara mencari intertekstual sebuah teks. Sulit mencari buku yang bisa membuat saya terombang-ambing setahun belakangan ini. Mungkin karena daya baca yang semakin kencang, dan saya semakin kebal dan bebal.

Seperti kata Pram soal proletar: mereka adalah pohon yang mengakar dan keras. Cuma bisa bertahan atau roboh kena topan badai. Ada pepatah yang berkata bahwa kedewasaan juga membuat manusia seperti pohon, semakin tua, semakin tinggi dan semakin keras.

Aih, semoga saya bisa menegasi Pram atau pepatah itu. Memang sekarang jadi pekerja dan mati di umur 27 tinggal impian, tapi semoga saja membaca Norwegian Wood dan tak terpengaruh sama sekali walau begitu dekat, bukan berarti jadi orang dewasa hopeless yang hidup hanya untuk orang lain.

Selama masih ada ide-ide segar, ambisi berkarya masih besar, sepertinya kita—saya dan kamu yang membaca— akan baik-baik saja seperti apapun situasi kondisi.

Saatnya membuka Kafka on The Shore. Baru beli tapi tertahanrwegian Wood yang saya baca habis cuma karena itu Murakami, bukan karena itu novel bagus.

PS.  saya tetap sarankan kalian baca sih, buat yang belum. Enak, easy reading. Rasanya kayak liburan. Haha.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s