Pejalan Kaki Malam Ini

walker

Berjalan kaki melintas malam. Bau tak sedap yang kota ini sebar, bau got dan kecoak, kotoran hewan di trotoar, dan bau darah dan jeroan busuk di sekolah dan tanah lapang. Septic tank rusak mengumbar setan-setan hingga aroma tidak lagi hanya tercium: kau bisa melihat dan mendengarnya.

Ada sebuah kerinduan kesumat yang melumat dari dalam setiap langkah. Ada kehadiran yang ingin dikejar, tubuh yang ingin dipeluk, aroma yang ingin dihirup dan semua kejahatan udara kota tak mampu merenggut mereka dari dalam jiwa seorang pengembara.

Awas. Motor dan mobil berdesing-desing seperti hendak membunuhmu. Trotoar hilang di seperempat jalan, dan untuk pulang kau menantang maut. Seorang pengendara motor baik hati, bapak berkumis bergigi kelinci yang bersinar di temaram berhenti. Ia menawarkan bantuan karena tahu: angkot sudah habis, dan tak ada uang naik taksi.

“Terima kasih, pak,” Ucapmu. “Saya ingin jalan malam.”

Ia berlalu melambaikan tangan. Lagu dari ponsel yang lebih cerdas darimu sudah habis satu album. Album kemarahan pada mesin yang membuat semua orang kasihan atau jijik pada mereka yang berjalan kaki. Yang kasihan menawarkan bantuan, yang jijik hendak membunuhmu: menklakson keras dari belakang padahal kau di pinggir jalan tanpa trotoar. Ia tak ada niat sama sekali untuk mengurangi kecepatan. Kau yakin, jika kau ditabrak, ia akan melenggang pergi seperi baru saja menabrak anjing, kucing, atau tikus jalanan.

Tak ada lagi manusia kota ini yang menghargai sebuah ritual pembersihan diri. Bukankah nabi hijrah dengan berjalan kaki? Unta hanya untuk mereka yang kaya, dan nabi kita hijrah dengan keadaan papa. Dan apa artinya Haji, tanpa kaki yang menelusuri jejak demi jejak dengan tenaga sendiri.

Zaman membuat kita manja. Sehingga kita jadi butiran-butiran debu yang menggumpal dan melayang-layang. Peziarah menjadi wisatawan. Khidmat menjadi nikmat. Dan segalanya tak dalam berarti. Segalanya permukaan. Segalanya debu.

Aih, abu Julius Caesar ada di wajah lusuhmu ini. Bercampur karbon monoksida dan rambut kambing yang dibantai keji demi Tuhan dan kulup Ismail. Caesar, ambisi dan kebesaranmu pada akhirnya berakhir sama seperti kami semua. Debu-debu.

Lihatlah ke angkasa. Bintang-bintang yang bisa memandu tertutup awan dan cahaya kota. Kemana kau berjalan?

Mencari kerinduan, meredam kemarahan dalam kebisuan.

Ada kuburan cinta-cinta yang mati. Hantunya menghantui. Bau wangi melati mengikuti sepanjang perjalanan. Wajah itu, bibirnya, dan tangis-tangis kekecewaan, kebencian dan keputusasaannya dinyanyikan lirih oleh pohon-pohon. Kemarahannya digemakan oleh tiang-tiang listrik, sambung menyambung mengikutimu.

Hingga pada akhirnya, setelah satu dua jam dan keram mulai terasa di paha, kau sampai ke rumah yang muram.

Kau sampai ke rumah, tapi tak pernah pulang.

Depok-Kebagusan
Dini Hari, 7 Oktober.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s