Tiga Citra Iwan Tjitra

Grafik oleh Nosa Normanda
Grafik oleh Nosa Normanda

Saya mau berbagi sedikit obituari tentang salah satu orang yang paling saya kagumi di dunia, Dr. Iwan Tjitradjaja: antropolog, mentor, pengajar dan inspirator hidup saya.

Saya kenal Pak Iwan sejak 2009, mulai dari kelas2 matrikulasi Antropologi di UI. Bicaranya lembut dan ia penuh canda di kelas. Ia tidak pernah merendahkan atau mencemooh mahasiswanya yang masih tolol2. Ia cenderung memuji dan mengencourage mahasiswanya daripada mematahkan semangat orang (seperti beberapa kolega yg saya kenal yg suka jadi dosen bad cop). Pak Iwan cenderung jadi Good Cop.

Tapi tak ada yang meragukan ketegasan dibalik senyumnya itu. Kawan-kawan dan senior di pasca antrop suka bilang, “Hati-hati sama pak Iwan, senyumnya menghanyutkan. Jangan main-main sama dia, jangan menganggap ia dosen ‘baik’ dan bisa dirayu2. Soal tugas dan komitmen, dia sudah banyak bikin mahasiswa tidak lulus. hati-hati!”

Kadang saya melihat wajah galak, tegas, rasional dan skeptis itu di kelas. Ketika ia bicara soal beberapa jenis pengobatan alternatif lokal, atau wacana mistis dan klenik, atau ketika ada seorang kandidat S3 yang bicara soal teori konspirasi atau pseudo-sains, daya kritis dan skeptisnya seringkali bocor. Dengan senyum dan keringanan bicara, kritiknya justru semakin tajam dan menusuk dalam. Karena itu saya lakukan apa yang mereka sarankan. Saya tidak pernah berani menyia-nyiakan kebaikan pak Iwan. Saya selalu waspada pada kata-kata lembutnya. Sampai suatu hari saya membuat kesalahan fatal.

Di suatu periode final exam, saya harus membuat auto-etnografi soal keluarga saya. Saya melakukannya dengan sangat sungguh-sungguh. Saya wawancara keluarga dekat dan jauh, sampai saya konfrontasi orang dengan misteri terbesar di hidup saya: bapak saya. Dan saya lakukan extensive reading untuk menemukan dan menjelaskan misteri kehidupan dan kebudayaan saya. Setelah lapangan dan literatur selesai, saya mulai menulis. Saya menulis, dan menulis dan menulis. Hingga selesailah paper final sekitar 30 lembar. Ketika saya ke kampus untuk kasih ke pak Iwan, saya terlambat entah satu atau dua hari, saya lupa. Sungguh, menulis selalu membawa saya ke dunia tanpa waktu.

Hati kecil saya bilang: kamu sudah tidak ada harapan. Pak Iwan tak pernah mentolerir keterlambatan. Tapi saya nekat. Saya ke ruang pak Iwan, dan seperti kata semua orang, dia tidak bisa memberi saya nilai. Saya sudah terlambat.

Lalu saya bilang pada beliau: “Pak, saya akan ulang semester depan. Tapi sempat nggak bapak proofread tulisan saya ini? Jadi semester depan bisa saya perbaiki.” Dengan mata teduh dan senyumnya, ia menyanggupi permintaan saya.

Beberapa hari kemudian, dia memanggil saya. Saya masuk ke ruangannya dan ia mengeluarkan tulisan saya, yang sudah penuh coretan dan ada grade nilai di atasnya. Dia serahkan paper saya dan dia bilang:

“Paper ini bagus. Saya bahkan sudah suruh beberapa orang untuk baca juga. Nilai kamu sudah saya masukan, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa.”

Aduh, saya memang lelaki cengeng. Saya hampir menangis karena memang paper itu bikinnya mati-matian. Dan saya sudah pasrah nggak lulus. Sejak itu, saya merasa berbagi rahasia dengan pak Iwan. Rahasia bahwa di balik senyum, canda dan ketenanganya,  terdapat seorang pria yang galak, tegas, konsisten dan rasional dan seringkali skeptis. Namun ada wajah lain dibalik ketegasan, konsistensi dan rasionalitasnya: kebaikan, cinta kasih, dan fairness.

Rest in Peace pak Iwan Tjitradjaja. We will always miss you and cherishes your accomplishment. You are immortal in our hearts and our minds.

Iklan

3 thoughts on “Tiga Citra Iwan Tjitra

  1. Yes, Iwan Tjitradjaja atau biasanya kami memanggilnya om Awan, adalah om yang terbaik he..he.. ga pernah memojokan orang… ha.ha. kalo om2 yang lain pasti selalu nanya ttg pelajarannya gimana? lah kita kan mau liburan ya, masih nanya2 sekolah kita gmn.. he.he. kalo om Awan ga pernah menasehati yg berlebihan.. hanya tanya yg ringan2 saja… we will miss Him…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s