Dari Manusia Bernama Guido ke Ide bernama V: Kenapa Demonstran KAMMI Gagal Total


Saya ingat beberapa tahun yang lalu, saya mengubah akun Facebook saya menjadi Guy Fawkes setelah menonton V for Vendetta. Saya bersama kawan saya (anonim) membuat akun tersebut bermodalkan akun saya, supaya si Guy langsung punya teman (yaitu teman-teman saya). Di situ, kami berkomitmen untuk membuat akun GF tersebut jadi simbolik–kami akan upload status, tulisan atau apapun berkenaan dengan gerakan sosial dan segala bentuk perlawanan terhadap tiran. Saya sendiri membuat akun FB lain, yang saat ini saya pakai untuk menulis note ini. Sampai tahun 2011 Guy Fawkes buatan kami cukup banyak followernya–termasuk follower-follower dengan nama dan foto profil sama di seluruh dunia. Guy Fawkes menjadi gerakan anonim yang besar. Ada 22.000 orang lebih di seluruh dunia memakai topeng dan nama ini di facebook. Di tahun 2011 itu lah Facebook memutuskan untuk menghapus semua member yang punya nama Guy Fawkes, God, Muhammad SAW atau Allah SWT, dan hanya memperbolehkan orang membuat Fan Page tentang tokoh-tokoh simbolik ini. Dan semua notes, serta status-status keren hilang bersama Guy Fawkes kami.

Dalam beberapa tahun terakhir, Guy Fawkes menjadi semakin mainstream. Dulu saya hanya punya topengnya dari dua orang: seorang sahabat saya memberikan topeng pajangan dalam sebuah bingkai, dan sepupu saya memberikan replika topeng otentik dari London. Banyaknya demonstrasi karena masalah ekonomi dan politik di berbagai belahan dunia membuat Guy Fawkes tambah banyak muncul di dunia nyata dalam bentuk aksi-aksi pertunjukan dengan tujuan menjadi anonim dan anti pemerintahan. Semua aksi-aksi ini kebanyakan masih dalam konteks V for Vendetta dalam memakai topeng Vendetta (nanti saya akan jelaskan lebih jauh). Mereka memprotes bankir dan politisi yang membuat ekonomi kacau, mereka memprotes gereja scientology yang ingin membatasi informasi, atau penahanan Julian Assange. Jarang ada yang membuat aksi dengan simbol V for Vendetta tanpa ada hubungan langsung dengan wacana perlawanan di komik/filmnya. Kecuali mungkin di Florida soal seorang tua bernama Duke yang membuat simbol V dalam lingkaran dengan pylox lalu menembaki dewan sekolahan, atau demonstrasi Kesatuah Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) baru-baru ini.

http://www.kammi.or.id/2015/05/kammi-pemerintah-wajib-melindungi.html
http://www.kammi.or.id/2015/05/kammi-pemerintah-wajib-melindungi.html

Dalam sebuah demonstrasi, KAMMI membuat aksi anti-asing. Dalam websitenya, salah satu tuntutannya adalah agar “Jokowi-JK segera Berpihak dan Melindungi Rakyat Pribumi Indonesia dari Dominasi dan Ketamakan Asing-Aseng.” Tak perlu membaca penuh tuntutannya, sejak awal tuntutan ini memang lemah argumen, miskin riset, dan kacau bangunan logikanya. Tulisan Ade Armando di Madina Online sudah cukup tajam mengulas kekacauan ini. Statement “anti-asing” dalam arti apapun tetap salah. Misalnya, kalo kita anti pada yang menindas dan merugikan negara, kita bisa bilang “anti-neoimperialisme”. Atau kita anti dengan struktur ekonomi yang membuat perusahaan nasional kita kalah saing, kita bisa bilang “Anti-neoliberalisme”. Anti Asing-Aseng adalah produk propaganda paling jelek sepanjang sejarah bangsa ini. Anti-Komunis saja masih lebih keren kedengarannya.

Wacana jelek mereka tidak menjadi perhatian saya; saya sudah mulai biasa mendengar mahasiswa Indonesia jadi goblok, dari yang anti-demokrasi sampai yang anti-musik metal. Saya sudah terbiasa mengaitkan demontrasi mahasiswa pasca satu dekade reformasi sebagai demonstrasi kontraproduktif. Saya jauh lebih menghargai mahasiswa-mahasiswa yang benar-benar kerja turun lapangan, lihat petani, lihat buruh, bikin riset, atau bikin gerakan massa secara real. Saya sangat menghargai mahasiswa-mahasiswa yang demonstrasi di kampusnya meminta penurunan biaya kuliah, penambahan beasiswa untuk yang kurang mampu, perbaikan fasilitas kampus, penangkapan koruptor akademik, pemberishan birokrasi kampus dari campur tangan parpol, penuntutan hak berpendapat dan berkumpul serta memutar film dengan tujuan akademik–daripada yang demo untuk mengejar karir kepartaian atau demi nasi bungkus. Atau yang lebih menyedihkan lagi: dikerjain seniornya dengan pseudo-ideologi.

Yang paling memprihatinkan buat saya selain demonstrasi mahasiswa berwacana tolol ini adalah pemakaian Topeng Vendetta. Mereka bukan hanya buta dan bodoh atas asal usul topeng tersebut, mereka juga membuat media mainstream di Indonesia yang sudah memprihatinkan intelektualitasnya, jadi berlagak intelek untuk mengkritik orang yang berlagak intelek. Dalam sebuah berita di jpnn.com, berjudul, “Di depan Istana, Puluhan Aktivis KAMMI pakai topeng tokoh katolik,” yang paling fatal menurut saya adalah soal Topeng Vendetta yang sama sekali tidak disebutkan. Si Wartawan menyebutnya Guy Fawkes dan merelasikannya dengan KATOLIK, bukan dengan V for Vendetta.

“Sebenarnya Guy Fawkes adalah salah satu tokoh Katolik Inggris yang hidup pada tahun 1570-1606. Dia dikenang dalam peristiwa Gunpowder Plot. Dimana saat itu dia bersama puluhan temannya membawa sekitar 30 kilogram mesiu dan berusaha meledakkan gedung parlemen di Inggris pada 5 November 1605. Upaya itu dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap raja Inggris, Raja James I dan para pejabat di Inggris yang dianggapnya telah menindas warga beragama Katolik. Namun upaya itu gagal. Dia tertangkap dan setahun kemudian dihukum mati.”

Perhatikan berita tersebut. Dari judulnya saja, si wartawan dengan inisial Flo hendak membuat kerangka berpikir bahwa  “Aktivis KAMMI pakai Topeng Tokoh Katolik. Ia hendak berlagak pintar dengan mengadukan KAMMI (muslim) dengan Tokoh Katolik alih-alih kata/frasa lain yang lebih tidak tendensius menjurus ke agama seperti Vendetta, teroris, atau tokoh gerakan Anonim Global. Seperti banyak wartawan media di Indonesia saat ini, Flo dan editornya memilih untuk adu jangkrik. Dan kita tahu, begitu banyak jangkrik di negeri ini. Mereka biasanya muncul di TV One dalam acara klab pengacara.

Si wartawan ini sengaja menghapus sebuah fakta penting tentang bagaimana Guy Fawkes dipakai sebagai simbol perlawanan anonimus dalam V for Vendetta. Ya, memang benar, Guy Fawkes dituduh seorang fundamentalis katolik yang hendak membunuh Raja dan Bangsawan dengan meledakan gedung parlemen. Tapi konteksnya si Wartawan itu pasti tidak tahu (atau sengaja tidak sebutkan): bahwa topeng Vendetta tidak mewakili agama Katolik yang menugaskan Guido Fawkes untuk mengebom parlemen Inggris. Ia hanya mewakili ide-idenya–termasuk konspirasi besar yang membuat Katolik di Inggris diasingkan selama 200 tahun seperti Komunis di Indonesia 50 tahun belakangan ini.

Dari Manusia menuju Ide: Kenapa Topeng itu Bukan Tokoh Katolik

The Gunpowder Plot

Keadaan Inggris tahun abad 16-17 benar-benar brutal. Bayangkan saja, gara-gara Henry VIII ingin punya anak laki-laki dan menikah lagi, ia harus menyingkirkan agama Katolik Roma dari Inggris dengan melakukan reformasi Gereja Inggris (Church of England). Ini jelas reformasi yang akan membuat kegalauan akut soal iman dan agama di Inggris–jangan lupa di masa ini, pemerintahan sekuler belum dikenal. Pencerahan masih 2 abad lagi. Henry menikah berkali-kali karena ia hampir selalu kehilangan anak laki-laki (meninggal waktu bayi atau anak-anak), kecuali Raja Edward VI yang meninggal umur 16 tahun. Kawin-kawinan ini membuat agama di Inggris berubah-ubah. Edward VI, satu-satunya anak lelaki Henry VIII, mengikuti bapaknya dengan gereja khas Inggris yang lepas dari Katolik; lalu digantikan oleh Mary I yang Katolik dan menyatukan lagi gereja Inggris dengan Roma, lalu digantikan lagi oleh Elizabeth I yang memisahkan lagi Gereja Inggris dengan Roma dan cenderung ke Protestan. Bayangkan betapa banyak pembunuhan dan plot ketika agama dijadikan tampuk pemerintahan. Kalau Indonesia jadi negara Islam, entah golongan-golongan apa yang akan saling rebut-rebutan kuasa dengan cara brutal ini–karena negara berlandaskan agama tidak mengenal demokrasi.

Penerus Elizabeth I, Raja James VI (ketika jadi Raja Skotlandia) atau James I (ketika jadi Raja Inggris) juga seorang raja yang identitas agamanya galau. Bayangkan, ibunya adalah Mary Stuart, Ratu Skotlandia yang masih sepupu dekat dari Mary I dan Elizabeth I. Mary ini Katolik dan menikah 3 kali. Pertama Francis II, raja Prancis (Katolik) dimana mereka belum sempat dikarunai anak ketika suaminya meninggal, kedua Henry Stuart, sepupunya, mereka adalah orang tua James VI dan mereka berdua Katolik; lalu Henry Stuart dibunuh dan Mary diculik oleh pembunuh suaminya dan dinikahi (kemungkinan dengan paksa) secara Protestan oleh James Hepburn, Lord of Bothwell. Pernikahan yang nampaknya sebagai cara memenangkan kuasa ini menimbulkan pemberontakan dari Katolik dan Protestan–apalagi karena Bothwell dicurigai sebagai pembunuh Stuart, suami kedua Mary. Bothwell dan Mary dituduh sebagai pembunuh dan pezina. Maka demi anaknya, Mary lari ke Inggris–agar anaknya tetap bisa menjadi raja. Pada usia 13 tahun, James ke VI dinobatkan jadi raja Skotlandia dengan cara Protestan, karena Protestan menguasai parlemen setelah Mary disingkirkan. Bayangkan: seorang raja yang dibaptis katolik, tapi dinobatkan Protestan. Drama raja James I cukup panjang, termasuk soal ibunya yang dieksekusi di Inggris oleh Elizabeth I, menerjemahkan injil dan membuat buku perburuan penyihir berjudul Daemonologie. Lain kali kita bicarakan.

James VI/James I
James VI/James I

Intinya, karena James VI lahir dari ayah-ibu yang adalah sepupu dekat dengan Elizabeth I, dan Elizabeth I tak punya anak (dia terkenal dengan julukan Ratu Perawan), maka James VI jadi raja di Inggris dengan nama James I. Begitu jadi raja, langsung ada dua plot untuk menggulingkannya: Bye Plot dan Main plot. Dua-duanya plot Katolik secara yang mendukung penuh James I jadi raja adalah anggota parlemen yang Protestan. Pada masa Elizabeth, plot-plot macam ini juga banyak dan Katolik jadi dipukul mundur–banyak yang percaya juga bahwa plot-plot ini adalah konspirasi Protestan untuk memperkuat dirinya di pemerintahan. Waktu James I naik, dua plot ini berhasil digagalkan dan semua konspiratornya DIAMPUNI. Kenapa? Pertama karena James I ingin dikenal sebagai raja yang damai; kedua karena ibunya dan bapaknya orang Katolik; dan ketiga karena kedua plot tersebut tidak ada yang ingin membunuh raja; yang pertama ingin Raja supaya pindah ke agama orang tuanya dan yang kedua supaya Raja diasingkan saja. Lebih dari itu, James I malah lebih memanjakan Katolik dengan menghapuskan UU diskriminasi yang dibuat Elizabeth I dan membebaskan pajak gereja Katolik selama setahun. Banyak sekali bonus dari sebuah plot yang gagal, ya?

Cuma plot ketiga yang paling bikin James I naik pitam. Di upacara pembukaan pemerintahan di parlemen tanggal 4-5 Nopember 1605, Guy Fawkes (prajurit berpengalaman, ahli mesiu) membawa beberapa barel bom ke basement gedung parlemen untuk membunuh semua: raja, ratu, semua bangsawan, dan me’reboot’ pemerintahan. Rencana ini gagal karena ada surat tanpa nama yang dikirim ke salah satu bangsawan Protestan. Setelah itu Guy bersama konspirator yang lain ditangkap dan dihukum mati dengan cara disiksa, digantung dan dimutilasi. Apa ini membuatnya menjadi martir Katolik? Sayangnya tidak. Setelah hukuman mati itu, James I jadi malah mengasingkan semua pendeta Katolik dari Inggris. Ada yang aneh? JELAS ANEH! Katolik pada masa James I sedang di atas angin, dua plot yang mereka rencanakan gagal dan Raja menawarkan toleransi, kenapa tiba-tiba mereka hendak mengebom parlemen dan membunuh raja dan keluarganya!? Ini AMIS!

Saya tiba-tiba ingat dengan PKI, partai yang sedang di atas angin yang tiba-tiba dituduh membunuh 7 Jendral Revolusi dan berencana menggulingkan Bung Karno–paduka yang mendukung mereka. Setelah itu terjadi pembantaian besar dan sudah 50 tahun ini Komunisme dijadikan haram di Indonesia baik untuk diajarkan ataupun dibicarakan apalagi ditonton film-film yang membahas soal itu. Tapi 50 tahun ternyata belum seberapa. Sentimen warga Inggris terhadap Katolik bertahan selama 200 tahun lebih. Selama 200 tahun itu mereka merayakan 5 November sebagai Bonfire day, dengan cara membuat patung jerami Guy Fawkes, mengaraknya keliling kampung lalu membakarnya sebagai simbol kekalahan Komunisme…maksud saya Katolik. Cuma ketika Inggris mengalami masa pencerahan saja (abad 18-19) baru berhenti mengadakan acara kalang obong seperti itu. Jelas para sejarahwan ragu, bahwa Gunpowder plot adalah hasil kerja murni orang Katolik. Apalagi plot peledakan dan pembunuhan ini menguntungkan golongan tertentu: protestan. Ini mirip dengan kecurigaan banyak orang dengan 9/11 juga.

Maka yang tersisa dari Guy Fawkes bukanlah orangnya, tetapi idenya. Bukan ide soal Katolik yang hendak meledakan parlemen parlemen Inggris tapi ide tentang konspirasi politik dan cara untuk mereboot sistem negara yang sudah sebegitu bobroknya. Ide ini diambil Allan Moore untuk menciptakan V for Vendetta.

Cover komik V for Vendetta (1985)
Cover Novel Grafis V for Vendetta (1985)

V for Vendetta

“Remember remember the fifth of November

The Gunpowder Treason and Plot

I know of no reason why the gunpowder treason

Should ever be forgot.”

Apa yang mau diingat dari 5 November 1605? Tentu kegagalannya. Topeng Guy Fawkes pertama kali muncul dalam graphic Novel Alan Moore dan David Lloyd, untuk menyembunyikan wajah V yang hancur. V adalah seorang aktivis sekaligus teroris. Musuhnya bukan pemerintah Protestan atau Katolik–tapi sebuah pemerintahan fasis yang membawa-bawa agama, anti terhadap homoseksual, anti terhadap ateis, anti kepada agama lain dan anti kepada lingkungan (dosa besar pemerintah dalam V for V adalah meracuni sumber air yang membunuh ribuan orang untuk menggulingkan pemerintah demokratik sebelum mereka). Sebuah pemerintahan yang anti asing-aseng, kalau kita pakai kata-kata aktivis KAMMI. Konteks pembuatan Graphic Novel tersebut adalah sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan Liberalisme-konservatif Margaret Thatcher di tahun 1980an yang mirip dengan NAZI: keduanya anti homoseksual, anti kritik politik dan rasis terhadap minoritas. Di akhir film, masyarakat yang sudah tidak tahan terhadap otoritarianisme pemerintah memakai topeng Guy Fawkes untuk marching bersama sebagai sebuah gerakan solidaritas. Sementara V sendiri dibantu Evey, sidekicknya, untuk meledakan parlemen melalui kereta bawah tanah.

Seperti dilansir Guardian, Alan Moore mengatakan, bahwa hari ini, V mewakili “Voice of the people. And I think that if the mask stands for anything, in the current context, that is what it stands for. This is the people. That mysterious entity that is evoked so often – this is the people”. Moore melihat bahwa wacana yang dibuat para pendemo dengan topeng V ini tidak main-main, bahkan untuk membuktikan bahwa mereka anti kapitalisme global Hollywood, beberapa demonstran membeli langsung Topeng V dari Cina atau membajaknya dengan sangat detil di rumah sendiri.  Ini mungkin konsisten dengan KAMMI yang mencetak topeng itu dengan printer–dan menunjukan ketidak-kreatifan mereka. Coba dibuat dengan bubur koran, pasti lebih keren dan tidak benyek-benyek kena keringat muka.

http://www.madinaonline.id/c907-editorial/mengapa-kammi-memandang-kelompok-tionghoa-sebagai-musuh/
http://www.madinaonline.id/c907-editorial/mengapa-kammi-memandang-kelompok-tionghoa-sebagai-musuh/

Jadi sudah tidak ada hubungan langsung antara topeng Guy Fawkes dengan Katolik. Malah saat ini, mestinya topeng itu sudah bukan disebut topeng Guy Fawkes lagi, tetapi topeng Vendetta, topeng anonimitas, topeng perjuangan terhadap keterbukaan informasi, hak dan perlindungan minoritas, topeng anti eksploitasi 99% rakyat oleh 1 % orang kaya di Amerika, topeng perjuangan kelas–ini wacana-wacana kontemporer yang sumber akademiknya banyak dan jelas kalau mahasiswa-mahasiswa KAMMI cukup pintar untuk riset. Yang jelas, KAMMI gagal total dalam merepresentasikan apapun yang ingin mereka representasikan. Mereka gagal merepresentasikan Mahasiswa, gagal merpresentasikan Muslim, gagal merepresentasikan pribumi dan mereka gagal merepresentasikan V. Dan yang paling gagal dari semua kegagalan adalah, mereka gagal merepresentasikan rakyat, miriplah dengan Dewan Perwakilan Rakyat. :p

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s