Dari Mata Seorang Pemerkosa Ke Seorang Penerjemah Yang Dizalimi Internet

Gerakan Ibu-ibu main hakim sendiri di India, karena hukum dan negara tinggal diam pada perkosaan. http://www.gulabigang.in/
Gerakan Ibu-ibu main hakim sendiri di India, karena hukum dan negara tinggal diam pada perkosaan.
http://www.gulabigang.in/

Tulisan ini adalah klarifikasi dan metodologi saya dalam menerjemahkan artikel “Dari Mata Seorang Pemerkosa,” dan tanggapan saya terhadap revisi yang dilakukan oleh orang lain terhadap terjemahan saya, tanpa seizin saya, dan dengan tetap menggunakan nama saya.

Tanggal 7 Juli 2015 kemarin, saya mendapatkan sebuah artikel dalam bahasa Inggris dari timeline kawan saya, Ikhaputri Widhiantini. Artikel berjudul, “Through the Rapist’s Eyes,” tersebut ada di wall facebook Neena Suzan Thomas, seorang perempuan yang tinggal di Cochin, India. Isinya saya rasa sangat menarik, tapi banyak yang memang tidak sesuai konteks (indonesia). Saya bilang pada Ikhaputri (Upi) saya akan coba menerjemahkan artikel tersebut karena ada beberapa poin yang saya rasa penting. Versi terjemahan saya bisa anda baca di sini.

Saya ingin menerjemahkan artikel itu karena terus terang saya sudah lama putus asa pada lambannya sistem hukum kita untuk bereformasi. Dari aparat hingga pengadilan, setiap tingkat, logika patriarkalnya begitu kental. Sementara orang-orang yang berjuang demi korban perkosaan juga tidak banyak. Beberapa orang bahkan mengecewakan saya karena perjuangannya jadi demi kepentingan pribadi/kelompok dalam menyebarkan benci, bukan mengubah sistem. Saya tidak perlu sebut kelompok apa ini, yang jenis begini ada banyak di Indonesia–membuat isu humanisme jadi alat politik yang tidak ada hubungannya dengan korban dan lupa kalau itu jahat. Dalam kondisi seperti ini, saya berpikir betapa perlunya kita memiliki Gulabi Gang kita sendiri. Minimal perempuan-perempuan yang mampu melindungi dirinya sendiri, minimal untuk kabur dan minta bantuan.

Jadilah saya terjemahkan artikel tersebut. Saya tidak ingin menjadi orang yang tak bertanggung jawab, yang menyebarkan sebuah tulisan anonim begitu saja. Jadi saya (1) riset tulisan tersebut dan (2) saya edit/tambahkan hal-hal yang menurut saya penting dalam konteks Indonesia (khususnya jakarta). Ini jadi menarik ketika saya menemukan bahwa tulisan tersebut sudah beredar semenjak tahun 2000an, dan penulis aslinya sudah menjadi mitos alias tidak diketahui. Satu situs mengatakan penulis aslinya adalah seorang murid David Portnoy, yang mengaku pelatih beladiri di Hollywood yang sekelas dengan Jean-Claude Van Damme dan Steven Seagal. Situs lain mengatakan penulisnya Richard Lee Orey, seorang wartawan pengadilan di California. Sirkulasi artikel tersebut sudah berlangsung selama 15 tahun dan sudah berubah menjadi banyak versi dan banyak dikritik orang.

Artikel itu telah lama dikritik karena menyederhanakan pemerkosa dan menyebarkan mitos-mitos soal pekosaan, menyalahkan korban, kurang data statistik/kuantitatif, dan ada juga kritik yang menyerang penulis asli secara ad hominem–padahal penulis aslinya sudah tidak benar-benar bisa diketahui. Yang paling menarik dari semuanya adalah, selama bertahun-tahun dengan semua hujan badai kritik tersebut, bahkan dengan email-email/posting tandingan, tulisan itu tetap beredar dengan banyak versinya. Orang tetap percaya secara global bahwa ‘mitos-mitos perkosaan’ dan perlawanannya di dalam tulisan itu benar-benar bisa digunakan.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kejadian ini. Pertama, konteks artikel tersebut adalah berbagi pengalaman. Gaya penulisnya adalah seorang perempuan yang mengambil kelas beladiri dan mendengar soal pemerkosa, lalu menuliskan pengalamannya. Jadi ketika ada seorang ‘ahli’ yang mengatakan si perempuan itu salah karena ia tidak punya data statistik atau kuantitatif lain, si ‘ahli’ itu akan dianggap sebagai guru yang menyebalkan karena mengadili pengalaman orang yang ia tidak kenal. Si penulis yang sudah menjadi mitos ini memang bermain dengan mitos soal pemerkosa. Sebuah mitos yang terjadi karena angka tindakan perkosaan masih tetap tinggi.

Kedua, artikel ini dituduh menyalahkan perempuan. Menurut Daria Odegaard, koordinator pendidikan untuk tindak perkosaan dan kekerasan terhadap anak di Fargo, Amerika Serikat, artikel ini bisa membuat perempuan merasa bahwa perkosaan terjadi karena ia tidak mampu membela dirinya sendiri. Buat saya ini pernyataan yang merendahkan, seakan-akan semua perempuan itu bodoh. Padahal jelas ketika dibaca, artikel tersebut bertujuan untuk mencegah, bukan melawan. Artikel tersebut berusaha menyarankan buka mewajibkan,  untuk membuat sebuah situasi perlawanan yang lebih mudah untuk kabur–dengan rambut pendek, pakaian yang tebal, senjata yang digenggam. Tujuannya bukan untuk menang apalagi dalam konteks wilayah-wilayah yang rawan perkosaan, tapi sesederhana untuk mencegah, membela diri, atau kabur.

Karena itulah artikel ini sangat viral di India, sebagai negara dengan tindak perkosaan tinggi dengan konteks yang sangat menyeramkan untuk perempuan. Di banyak tempat di dunia, seperti juga di Indonesia, masyarakat masih percaya bahwa perkosaan adalah salah perempuan. Kita memang harus melawan stigma itu, tapi yang terjadi sekarang adalah kondisi dimana ‘perkosaan salah perempuan’ adalah kenyataan sosial. Protes-protes jangan menyalahkan perempuan tidak ada gunanya dalam kehidupan sehari-hari, paling tidak sampai hukum dan aparatnya sudah ganti generasi dan sadar tugasnya. Protes harus terus berjalan, kebenaran masih kita perjuangkan sama-sama, tapi sementara ini kita harus sadar kebenaran yang berlaku dan membantu mereka yang hidup di lapangan sehari-hari.

Ketiga, menggunakan data-data kuantitatif, atau perbandingan kualitatif lain untuk mengkritik artikel dan  mendiskreditkan penulisnya. Termasuk di dalamnya penjabaran fakta bahwa kebanyakan perkosaan dilakukan oleh orang yang dekat dengan korban, bukan oleh penyerang sembarangan. Ini buat saya kritik yang sangat kontraproduktif dan tidak kontekstual. Perkosaan oleh orang yang dikenal dekat oleh korban adalah kejadian yang harus memakai pendekatan lain. Silahkan tulis lagi artikel “Dari Mata Seorang Bapak/Kakak/Saudara/Tetangga Pemerkosa.” Artikel ini istimewa justru karena ia tidak spesifik. Minimal artikel ini memberikan cara untuk kabur dari si pemerkosa (siapapun itu), dan mulai berpikir untuk lapor ke orang lain.

Versi artikel ini sudah sangat banyak, ia sangat populer dan terus disebarkan. Menurut saya ini karena tone artikel yang sangat personal dan seperti curhat. Ia membuat pembacanya merasa dekat. Artikel ini dibuat dengan kerangka pengalaman orang dan sudah banyak versinya. Dari yang sangat pendek sampai yang sangat panjang.

Saya sendiri mengalami, bahwa tiga hari setelah saya menyebarkan artikel tersebut, muncul beberapa versi dalam bahasa Indonesia yang melenceng dari yang saya terjemahkan. Versi-versi ini menyebar di group Line dan Whatsapp dan sudah diedit sesuai kepentingan dan pengalaman si penyebar. Yang parah, versi-versi ini menambahkan institusi pada nama saya dan Ikhaputri yang pada versi aslinya SENGAJA tidak saya tuliskan. Ini urusan pribadi saya dan Ikhaputri, dan bukan urusan institusi. Kami tidak bicara sebagai pengajar/dosen pada mahasiswa, kami bicara sebagai orang awam kepada orang awam lainnya.

Selain itu, ada beberapa bagian yang dihilangkan dalam versi-versi tersebut. Ada yang mengedit kata ‘jarang’ dalam kalimat, “Perempuan dengan rambut pendek dan berjilbab jarang (bukan tidak mungkin) diincar.” dengan ‘tidak mungkin’ untuk menguntungkan kelompok agama tertentu. Saya sendiri menambahkan elemen ‘jilbab’ dalam artikel itu, karena pengalaman pribadi beberapa teman saya, warga Korea dan Jepang non muslim yang pura-pura memakai jilbab agar tidak digoda lelaki hidung belang di jalanan Jakarta.

Ada penyebar yang menghilangkan paragraf disclaimer, atau kalimat penutup yang berasal dari tokoh Agnostik Amerika, Robert Green Ingersoll. Mungkin masih banyak lagi versi-versi lain, karena saya sudah tidak bisa melacak kemana saja teks itu pergi. Tapi yang paling disayangkan, nama saya dan Ikhaputri beserta pekerjaan kami masih dicantumkan dalam teks-teks yang sudah direvisi tersebut, dan itu jelas mendiskreditkan kami berdua.

Saya menempatkan nama saya dan Ikhaputri, juga Neena Suzan Thomas untuk memulai sebuah tradisi penyebaran informasi yang bertanggung jawab. Saya dengan sadar dan riset menerjemahkan dan mengadaptasi artikel itu. Jadi sebenarnya, ketika ada orang yang ingin mengadaptasinya lagi, saya akan sangat senang. Apalagi 15 tahun terakhir, artikel tersebut sudah menjadi pekerjaan kolektif banyak orang dan mereka bisa berbagi pengalaman.

Saya bisa tunjukkan bagaimana sebuah artikel pendek soal curhat latihan bela diri seorang perempuan, ber-evolusi menjadi laporan etnografi wawancara tahanan perkosaan, lalu ditambahkan teknik-teknik, tips wisata, dan unsur-unsur kebudayaan dari Fargo, California, New Orleans, sampai India dan (saya menambahkan) Indonesia. Teks itu adalah milik bersama, kerja kolektif orang-orang yang perduli dan berharap teks tersebut bisa membantu keadaan sekarang. Bukan masa depan atau idealnya masyarakat, tapi sekarang.

Jangan dekati teks tersebut dengan embel-embel feminisme, atau kajian perkosaan yang dapat dipakai untuk mengubah UU atau kebiasaan dalam jangka waktu yang panjang. Dekatilah teks tersebut dengan kesederhanaan jangka pendek bahwa masih banyak orang baik yang ingin membantu sesamanya. Bahwa masih banyak orang yang anti pada perkosaan, tapi bukan feminis atau ahli tindak kekerasan. Bukan orang-orang yang punya akses pada data akademik. Bukan aktivis-aktivis yang terhormat dan berpendidikan. Orang biasa saja, seperti korban-korban perkosaan kebanyakan.

Yang ingin saya sampaikan secara pribadi adalah, mari belajar bertanggung jawab. Kepada siapapun yang mengedit terjemahan saya, jadilah pemberani dan tulislah nama anda di situ. Atau kalau anda mau jadi pengecut pun tak apa-apa, asal anda hapus nama saya dan kawan-kawan saya. Saya berharap anda dan saya bertujuan sama: melindungi sanak, saudara, kawan dan semua perempuan yang hidup bersama kita di dunia yang gila. Kalau kita bertujuan sama, maka jadilah orang bertanggungjawab.

Karena kenyataannya sekarang kita sama-sama tahu, di Indonesia hukum terhadap pemerkosa masih lembek. Tips dalam teks ini mungkin tidak akan banyak membantu, tapi paling tidak bisa memberikan kewaspadaan. Di kota besar Amerika kewaspadaan itu sudah tidak begitu diperlukan, karena sistemnya sudah berjalan. Tapi di Indonesia, saya rasa kita masih perlu. Saya seperti banyak orang berharap bahwa suatu hari, artikel ini tidak akan populer dan tidak perlu disebar lagi, karena kita tidak lagi membutuhkannya.

Untuk menutup tulisan ini, saya akan terjemahkan beberapa testimoni perempuan-perempuan yang merasa bahwa kewaspadaan itu diperlukan, apalagi dalam sebuah masyarakat patriarki dan misoginis. Berikut adalah tanggapan pada kritik-kritik terhadap artikel ini:

“Yang paling baik dari kelas beladiri yang kuambil ketika kuliah adalah menekankan dalam menghindari situasi berbahaya. Itu bukan soal menyalahkan korban, tapi lebih pada memberikan daya pada kita untuk bicara dan/atau bertikndak ketika kita terpojok. Ya, kita mungkin bisa membuat orang tersinggung, atau membuat kita sendiri malu, tapi itu lebih baik daripada diserang. Dia (si penulis artikel) memberikan kita kebenaran yang pahit, dan saya masih mengingat kebenaran itu setelah belasan tahun ini.”

Alyssa

“Kritik anda pada artikel ini lucu sekali! Sayangnya kritik anda tidak ada gunanya di India, karena kami butuh (artikel) ini. Satu hal yang saya rindukan di India, adalah untuk bisa keluar rumah dan pergi kemanapun saya suka.”

Kay in India
“Tujuan artikel ini adalah untuk membuat pikiran tetap jalan dan punya kemampuan fisik untuk bereaksi dengan cepat di saat yang diperlukan, melumpuhkan/membingungkan penyerang, dan kabur.”

Norma

Iklan

3 thoughts on “Dari Mata Seorang Pemerkosa Ke Seorang Penerjemah Yang Dizalimi Internet

  1. Tulisan yang menarik dan saya sangat setuju dengan pembahasan ini. Semoga bisa menjadi pembelajaran bagi yg membacanya juga.

    Satu hal yg ingin digaris bawahi adalah statement “mungkin indonesia harus memiliki gulabi gang nya itu sendiri”.
    Saya kurang setuju, karena di india, gerakan gulabi gang ini menyalahi aturan hak asasi manusia.
    Mereka menghukum para suami yang melakukan kdrt pada istri dengan cara yg ektrim dll. Gulabi gang ini mirip seperti FPI yg membela islam secara ekstrim.
    Sebenarnya memang bukan inti dari pembahasan, tp menurut saya dampak future harm apabila banyak wanita yg membaca artikel ini dan menganggap gerakan gulabi gang itu bagus mungkin akan membentuk gerakan yg serupa di kemudian hari.
    Semoga tulisannya bisa di kaji ulang 🙂
    Over all tulisan ini sangat recommended untuk disebarluaskan dan di line pun sepertinya sudah banyak tersebar.
    Terima kasih sudah membuat artikel yg sangat bermanfaat.

    1. Kayaknya gulabi gank indonesia perlu di beberapa wilayah saja yg sangat parah, dimana penjualan perempuan dan nikah dibawah umur jadi tradisi. Di trafficking Indramayu, kawin kontrak puncak, amoy kalimantan, dan pelacuran anak batam misalnya.

      FPI pun saya rasa ekses dari pemerintah dan aparat yg ga jalan..itu wajar ketika negara tutup mata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s