Buat Liez (STALKERS)

 

Now a short film, STALKERS.
Photo: Kristian Putra dari adaptasi cerpen ini menjadi film pendek, STALKERS.

Ini adalah cerpen yang saya adaptasi menjadi film pendek, Stalkers. Tentunya karena diadaptasi, maka banyak yang diubah, termasuk penambahan karakter. Cerpen dan filmnya menjadi karya yang benar-benar berbeda.

*nada sambung*
*mesin penjawab pesan*
“…Silahkan tinggalkan pesan anda setelah bunyi berikut ini”

Liez…

Uhm… Aku harus ngomong sama kamu. Tapi. …uhm… mungkin kalau kamu ngangkat telepon ini, aku nggak bakal bisa ngomong apa-apa. Hehe. Malah, mungkin bakal aku tutup. Hehehehe…uhm…

Oia… Ini Jon. Masih inget? Kita ketemu di training kantor tiga hari yang lalu… uhm… aku. … cowok kurus yang rambutnya mohawk.. uhm… yah mungkin kamu lupa sih. Nah karena itu juga aku agak takut ngomong sama kamu… hehehe…

Uhm… aku cuma mau ngomong sebentar…daan… karena ini mesin penjawab, aku harap kamu nggak takut. Toh ini rekaman dan kamu bisa anggap suara ini suara mesin, bukan suara orang. Jadi semoga kamu nggak nganggep aku orang aneh gitu. Ya kan? Kamu bisa nganggep aku mesin aneh, bukan orang. Hehehehe…

Uhm…Jayus ya. Maaf ya. Ok. Aku langsung aja. Maaf tadi bertele-tele. Ini mungkin terakhir kalinya kamu denger suara aku. Aku cuma minta waktu sama kamu sekitar sepuluh menit aja. Dengerin sepuluh menit aja dan aku janji nggak bakal ganggu kamu lagi.. kalau kamu nggak mau kuganggu.

Uhm… Sorry susah nih nyampeinnya. Hehehe. Aku harus ngomong sesuatu yang agak nakutin ke kamu. Semoga kamu nggak nutup telepon apalagi langsung men-delete pesan ini. Aku…uhm…Aku baru bunuh orang.

Jangan ditutup! Ini penting! Menyangkut hidupmu juga! Menyangkut hidupmu! Sumpah! Hhh…

Ok…ok… Uhm… Aku bunuh orang. Sekarang mayatnya ada di depanku. Ini aku ada di apartemennya. Daaan nama orang ini… sebentar… nama orang ini…. David. Ya. Dan dia stalker.

Liez, dia punya foto-foto kamu di sini. Kayaknya dia udah lama ngikutin kamu. Dia punya foto kamu lagi di rumah, di kantor, di kamar mandi… uhm… bahkan… uhm… dia punya foto-foto kamu lagi have sex sama cowok yg beda-beda. Mungkiiin inii… mantan-mantan pacar kamu… atau mainan-mainanmu…hehe… Aku nggak ada yang kenal cowok-cowok ini… kecuali… Brian. Ya… karena dia kan tutor kita waktu training kemarin.

Daan… uhm… ini yang penting sekali… ada foto kamu dan pak Pierre baru keluar hotel. Tapi gaya fotonya beda. Yang ini diambil pake kamera CCTV dan rambut kamu pendek. Wow. Ternyata kalo rambutmu pendek kamu lebih cantik ya, Liez. Uhm.. Tapi mungkin ini gara-gara gambarnya ngeblur aja, jadi khayalanku jalan. Hehehe… sorry… bercanda. Kamu cantik kok gimana juga…

Uhm… Aku kira kamu baru kenal pak Pierre, CEO kita. Nggak tahunya kamu udah lama kenal sama dia, ya? Aku tahu soalnya foto kamu dan pak Pierre ini dipisahin sama si David. Ini foto ada di laci mejanya. Nggak ditempel di board kayak foto-foto kamu yang lain.

Di meja David ini juga aku nemu berlembar-lembar transkrip percakapan telepon kamu. Wow… bahkan adaa… uhm.. percakapan sms dan chat internet dan…smartphone kamu.Ckckck… David ini kayaknya bukan stalker biasa, dia profesional. Dia kayaknya detektif swasta. Hahaha… menarik…. menarik abis!! Aku tegang bener nih abis bunuh dia. Hahaha…

Uhm… sorry-sorry aku kebawa. Uhm… bentar-bentar… ini….aku lagi lihat hp nya si David. Hum… Banyak SMS ke pak Pierre. Dia ini kayaknya detektif yang dikirim pak Pierre buat nyelidikin kamu. Ya. Ini ada sms kayak “Bos, saya sudah email foto-fotonya.“ Mungkin maksudnya foto-foto kamu yang syur itu. Bahayya…

Hehehe. Mulai ketebak nih polanya. Kamu pasti pernah punya hubungan sama pak Pierre, tapi dia ninggalin kamu karena dia punya anak-isteri, atau apalah. Yaa karena dia udah tua begitu, malah mungkin udah punya cucu, dan kamu nggak terima terus kamu malah kerja di kantornya. Terus dia panik dan ngirim detektif buat nyelidikin kamu. Soalnya semua data transkrip ini awalnya dua minggu yang lalu. Pas kamu mulai masuk kantor.

Kerennya si David ini telaten lho. Dia bukan cuma nyelidikin kamu tapi juga cek backgroundnya pak Pierre. Pantes tadi aku susah banget bunuh dia. Bisa bela diri juga dia. Aku terpaksa gorok lehernya; abis dicekik pake kawat dari belakang dia malah nonjok.

Uhm… Ok. Kayaknya aku udah kebanyakan ngomong ya? Kelamaan ya, Liez ya? Maaf. Kalo gitu biar aku jelasin dulu deh gimana aku bisa bunuh si David dan nemuin semua ini.

Uhm… jadi, aku pertama kali lihat kamu kan dua minggu lalu tuh. Waktu kita sama-sama.wawancara kerja. Pertama kali lihat kamu, aku langsung ngerasa, kamu. ..uhmm…. apa ya namanya? Bukan cinta pandangan pertama atau soulmate atau apapun klise-klise itu. Kamu tuh… buat aku…. Kayak…uhm…hal yang udah lama kucari.

Tapi aku nggak bisa jelasin ini pake kata-kata.
.. Pokoknya aku ngerasa, ada dorongan kuat kalau aku harus ikutin kamu. Aku harus tahu kamu siapa. Walau aku nggak kenal sama sekali tapi kamu…uhm… kamu bikin aku tiba-tiba punya photographic memory. Aku ingat setiap ngelihat kamu, kamu pake baju apa warna lipstik kamu, bahkan bau parfum Christian Dior kamu. Aku bisa ngehirup setiap kali kita papasan. Kita sering lho, papasan. Sebelum kita kenalan tiga hari yang lalu itu. Bahkan aku pernah berdiri di belakang kamu di lift. Kamu kayaknya udah biasa diperhatiin cowok, jadi yaa… kamu nggak sadar aku meratiin kamu.

Uhm… Ya, soal parfum itu aku sampe riset ke Mal buat tahu apa yang kamu pake. hehehe.

Ok. Jadi…aku mulai stalking kamu dari dua minggu yang lalu. Tapi jangan salah, aku bukan pervert, aku nggak ngintip-ngintip kamu, motret-motret, apalagi nyuri celana dalam. Aku ngikutin kata hatiku. Bukan kata birahi.

Dan waktu aku ngikutin kamu itulah aku ketemu David. Untungnya, aku ngeliat dia duluan stalking kamu, bukan sebaliknya. Kalo dia ngegepin aku nguntit kamu, terus difoto, aduh malu banget bakalan. Hahaha.

Jadi dua minggu ini kerjaku dobel. Tripel malah! Stalking kamu dan stalking David, terus kerja di kantor. Kamu aku ikuti demi hati; David kuikuti demi otak. Ya… aku penasaran aja, ngapain si David ini.

Oh iya, David ini bapak-bapak Cina. Agak gemuk, pake kacamata. Bibirnya gede. Hehehe. Pasti kamu pernah lihat deh. Minimal papasan. Tapi yah, emang mukanya gampang dilupain sih. Menguntungkan muka jelek kayak gitu untuk profesinya. Yah, mungkin aku juga bisa punya profesi kayak gini, secara sampai tiga hari yang lalu, kamu aja paling nggak tahu aku pernah ada.

Uhm…

Ok. Kenapa aku sampe bunuh David? Di apartemennya sendiri lagi.. Uhm. Ini sedikit banyak karena aku kenalan sama kamu, dan ngerasa hubungan kita makin kuat. Daan…
karena aku kaget, waktu aku ketahuan ada di apartemennya.

Aku ngikutin dia kan, hampir dua minggu ini. Dan sekitar lima hari yang lalu, waktu dia stalking kamu lagi dugem, aku nyolong access card dan kunci apartemen dari tasnya.

Dia mungkin detektif, punya skill investigasi. Tapi aku juga punya skill khusus. Uhm… nanti kalau kita bisa kenal lebih dekat, aku mungkin bisa cerita-cerita.

Nah, aku ke apartemennya sore ini. Tadinya cuma iseng. Kalau kunci pintunya dia ganti, aku nggak jadi lihat-lihat. Ternyata….bisa dibuka sodara-sodara! Dan kayak yang udah aku ceritain, aku nemu semua ini. Terus tiba-tiba ada yang buka kunci pintu, terus aku ngumpet di lemari, ngambil hanger baju dari kawat, dan si David masuk. waktu dia diri di depan mejanya, aku cekik dia. Dia ngelawan, barang-barang, dokumen jatuh dari meja. Dia nendang meja sampe aku kejengkang. Terus dia tonjok aku. Kebetulan di situ ada cutter yang jatuh dari meja, terus aku ambil cutter itu dan…hhh…. yah kamu taulah sisa ceritanya.

Uhm… Jadi gini Liez. Aku nggak berharap macem-macem dari kamu. Aku nggak akan meras kamu atau apapun. Malah sebaliknya, aku akan bakar semua barang bukti bahwa kamu ada hubungannya sama si David. Aku akan bikin gas di apartemen ini meledak, dan David kecelakaan. Tentunya setelah semua dokumen kamu raib. Nanti aku bawa keluar, dan kubakar di rumah. Terus aku flush di toilet.

Dan besok pagi, aku akan pindah ke kota lain. Aku nggak akan ngomong kota apa. Tapi aku pengen kamu tahu kalo…satu…masalahmu belom selesai, apalagi sama pak Pierre. Dia nggak bakal stop, dia selalu bisa cari detektif lain. Mungkin dia nggak akan bunuh kamu, tapi mungkin juga iya, kalau dia ngerasa tersudut. Mungkin kamu cinta sama dia, sampe nekat kerja di kantormya. Tapi aku rasa lebih baik kamu nyingkir. Bahaya.

Dua. Aku sayang sama kamu. Dan aku udah buktiin aku bisa bunuh orang buat kamu, tanpa imbalan apa-apa. Jadi kalau kamu butuh bantuan, misalnya untuk balas dendam ke Pierre atas sakit hatimu, kamu bisa halangi aku pergi. Besok aku mau ngopi dulu di Dunkin Donuts Gambir, sekitar jam 8an. Kita bisa ketemu di sana. Kalau nggak, yaa… nggak apa-apa. Artinya hatiku salah. Sudah biasa hatiku salah. Dan itu bukan salahmu, tapi salahku.

Semua ini aku lakukan untuk diri sendiri, kok. Kalau hidupmu lebih ringan, aku senang. Dan aku bukan laki-laki obsesif. Kamu nggak usah takut aku ikuti lagi. Aku sudah lakukan yang bisa kulakukan. Selanjutnya terserah kamu, Liez.

Uhm… apa lagi? Kayaknya udah semua. Ok. Aku banyak kerjaan. Banyak dokumen yang harus dihilangkan, dan mayat yang harus dibikin kecelakaan gas.

Pokoknya besok. Dunkin Donuts Gambir. Jam 8.

See you when I see you.

*telepon ditutup*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s