Hikayat Dara dan Bujang

img_1027
sumber foto: Fityanakifah

Dara dan Bujang melenggang di pematang.

Berpikir setengah matang, percintaan yang lantang. Hingga pematang berubah menjadi ranjang.

Ranjang. Rangsangan telanjang. Mata keranjang. Mata selalu ke rangsangan telanjang. Bulan jadi terang benderang.

T e r a n g s a n g.

Dan mereka berdua bermata keranjang saling memandang di atas ranjang seperti mau perang. Ada yang memajang. Ada yang tegang memanjang. Tiba-tiba bulan meremang dan mereka bertandang. Yang satu terlentang yang lain merentang. Tubuh mereka membentang. Lubang bertemu batang. Saling menggelinjang. Dara sungsang Bujang melanglang. Keringat dan liur terbuang. Tak satupun yang ingat ruang apalagi jalan pulang. Hingga mereka kejang dan akhirnya mengerang. Selesai sudah berjuang, tadi jalang sekarang tenang.

Dara dan Bujang. Jera tak datang.

Dara kehilangan selaput burung Bujang lemas menyusut. Ranjang kembali jadi rumput dan remang bulan keriput merengut. Khayalan menghanyut. Keperawanan sudah terenggut tapi tak ada darah di jembut. Bujang malas usut malah langsung cabut. Dara cemberut. Mereka lalu ribut saling jambak rambut lalu pulang semerawut. Tak ada jiwa yang terpagut hanya hati yang terparut. Kenyataan tak menurut harapan tidak patut.

Dara dan Bujang

Dara jadi Diri dan Bujang jadi Bajing.
Diri jadi dewasa. Bajing makin kanak-kanak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s