Annie #2

back-beach-black-man-muscles-ocean-Favim.com-105109

Annie takut laut tapi Annie suka pria hitam.

Sampai umur 9 tahun, Annie suka bengek. Nafasnya sering sesak dan bunyi seperti kucing lapar. Kata Oma, ibunya Jance, kepada I’in, istri Jance sekaligus ibunya Annie, anak bengek harus sering-sering mandi di pantai.

Sebenarnya Oma kesal dengan bengek Annie, karena bengeknya mengganggu ketika Annie ikut nonton sinetron dan telenovela di tv. Oma harus putar volume lebih besar karena Annie tak mau diusir dari depan TV. Annie kecil sangat suka kisah percintaan di sinetron dan telenovela. Diam-diam kalau bapaknya tidak tahu, Annie yang berusia 6 tahun  selalu berandai-andai, apa yang dilakukan tokoh pria dan wanita di telenovela ketika mereka saling merangkul dan wajah mereka berdekatan. Adegan selalu berakhir di situ.

Annie menemukan jawabannya ketika ia tak bisa tidur suatu malam karena bengeknya sendiri. Ia berjalan ke kamar orang tuanya dan melihat orang tuanya sedang mengemut dan menjilat satu sama lain sambil telanjang.

Melihat adegan itu, Annie tercengang dan menahan nafas selama hampir 30 detik. Lalu ia bengek lagi.

Betapa kagetnya I’in dan Jance ketika mereka mendengar suara bengek itu dan bayangan yang memperhatikan mereka. Mereka langsung memakai baju. I’in mengurus Annie ke dapur. Memberinya segelas air hangat. Jance merengut di ranjang. Ia selalu benci coitus interuptus, interupsi senggama. Stress yang ia dapat dari kerja seharian jadi berkali-kali lipat. Sudah lama ia tidak mendapatkan percumbuan yang berkualitas dari istrinya. Ia kesal.

Ketika Istrinya kembali ke ranjang setelah Annie tidur tenang di kamarnya, Jance belum bisa tidur. Akhirnya mereka ngobrol sedikit dan memutuskan bahwa mereka butuh rekreasi. Akhir pekan itu mereka akan liburan ke pantai, seperti saran Oma.

Jadilah mereka sekeluarga yang terdiri dari Jance, I’in, Annie dan Oma berlibur ke Anyer. Jance menyewa mobil sewaan, sebuah kijang buaya. Sepanjang jalan mereka kepanasan karena mobil itu tak ber AC dan jendelanya rusak. Hanya jendela supir yang bisa dibuka karena memang tak ada kacanya.

Sampai di Anyer, Annie begitu gembira melihat pantai. Gadis kecil itu langsung berlarian bermain air. I’in berusaha mengejar Annie. Jance mengurus ibunya yang menawar tikar lalu menawar pelampung untuk dipakaikan ke Annie. Tapi akhirnya ia tidak jadi menyewa pelampung karena terlalu mahal.

Akhirnya Jance dan I’in yang bermain bersama Annie di pantai, sekaligus menjaga anak semata wayang mereka.

Hari sudah menjelang sore. Langit berubah warna menjadi jingga. I’in dan Jance duduk di pinggir pantai sambil makan kelapa muda. Oma sudah tertidur di tikar sejak setengah jam yang lalu. Ia seperti penyu yang terdampar.

I’in dan Jance saling bercanda, seperti ketika mereka pacaran dulu. Annie sedari tadi bermain pasir, membuat ikan paus, atau sekedar lubang-lubang. Jance dan I’in melihat Annie sedikit-sedikit untuk memastikan anak mereka ada di sana.

Pantai mulai sepi. Langit senja sedang indah-indahnya, jingga dan merah saling berpelukan, bersenggama. Angin sepoi-sepoi bertiup. Oma tertidur. Annie sibuk bermain pasir. Saat yang tepat untuk sepasang manusia yang sulit sekali bercumbu di rumah sendiri. Akhirnya mereka tak tahan. Mereka ciuman dalam keromantisan ini. I’in dan Jance seperti sepasang kekasih di usia belasan yang sedang semangat-semangatnya. Mereka lupa waktu, mereka lupa Oma sedang mendengkur di sebelah mereka. Dan mereka lupa…

Annie.

I’in kaget setengah mati karena Annie hilang dari tempatnya semula bermain pasir. Ia dan Jance bangun dan mulai mencari Annie. Laut mulai pasang. Tidak ada jejak kaki Annie, bahkan ikan paus pasir yang tadi dibuat Annie sudah tersapu ombak. Mereka panik.

Tiba-tiba sekelebat bayangan berlari melewati mereka. Bayangan itu dengan cepat loncat ke air dan berenang. I’in dan Jance memperhatikan. Bayangan itu terlihat bergumul di tengah laut dan mengambil sesuatu. Ia membawanya berenang ke pinggir. Annie.

Annie sudah mengambang. Dan si bayangan yang melihatnya duluan lalu berlari, berenang menyelamatkan gadis kecil itu. Ia membawanya ke pinggir. Annie pingsan. I’in berteriak-teriak histeris. Jance berusaha mengambil Annie dari si bayangan yang ternyata adalah seorang pria yang kulitnya sehitam bayangan. Jadi mari kita lanjutkan menyebut pria itu si bayangan. Si bayangan meminta maaf dengan sopan, untuk memberikan Annie nafas buatan. Jance sempat tertegun tapi akhirnya ia biarkan karena si bayangan melakukannya dengan cepat. Tiup lewat mulut. Pompa. Pompa. Pompa. Tiup. Pompa. Pompa. Pompa.

Annie terbatuk. I’in dan Jance langsung bersyukur setengah mati, hendak memeluk anaknya tapi dihalangi si bayangan, karena ia ingin memastikan Annie bisa bernafas dengan baik dulu. Annie memperhatikan si bayangan dan menyentuh bibirnya. Ia baru saja mendapatkan ciuman pertama.

Jance dan I’in memeluk Annie dan berterima kasih pada si bayangan. Si bayangan hanya tersenyum.

Oma bangun dan berjalan menuju empat orang itu sambil menggerutu. “Kalian main di air lama sekali. Ini sudah mau malam. Ayo pulang.”

Annie digendong Jance menuju tampat bilas. Annie melihat ke arah pantai dari punggung Jance. Tubuh si bayangan yang kekar, mengkilat dengan remangnya mentari senja. Si bayangan berjalan ke tengah pantai dan berenang. Annie memperhatikannya menghilang di garis cakrawala.

Sejak itu Annie takut laut, tapi ia suka pria hitam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s