Humanistik dan Empatetik Hipsterdom

source: http://cdnimage.terbitsport.com/
source: http://cdnimage.terbitsport.com/

Ini curhat lho ya, jadi jangan dianggap serius. Referensinya nggak jelas, tulisannya nggak bisa dan nggak akan saya pertanggungjawabkan secara profesional akademis. Saya cuma memakai insting natural saya sebagai Hommo Labelicus, atau manusia yang suka ngasih label (lagi-lagi ini karangan saya, tak ada istilah ilmiah untuk kata latin ngasal ini). Ini tulisan latihan untuk bikin tulisan lain soal Hipster perjuangan, yang sudah berbulan-bulan masih dalam proses pengendapan karena belum klik. Otak masih nunggu disamperin Dewi-dewi Muse. Jadi yah, selow aje.

Jadi bulan April lalu saya dan Prys menulis sebuah artikel berjudul “Record Store Day, Jokowi & Hipster Wannabe; mencari kenyataan dibalik Rilisan Fisik.” Tentunya ada berbagai reaksi soal ini. Dari Ibnu Nadzir, (yang tulisannya saya tidak temukan karena ketika saya buka, website pabrikultur sedang error), kira-kira mengatakan bahwa editorial ini seperti hipster makan hipster–dibuat oleh hipster untuk melabeli hipster yang lain dengan label yang dasar pemikirannya tidak dapat dipertanggun jawabkan. Walau si penulis dengan sopan mencoba menebak-nebak arti label Hipster Wannabe dan Hipster perjuangan yang kami sajikan dan tebakannya hampir benar– paling tidak artinya kami berhasil mempopulerkan dua frasa itu demi perkembangan bahasa Indonesia. Hahaahahaha…

Reaksi lain ada di group fb tertutup yang tak perlu saya kasih namanya di sini, karena nanti jadi terbuka. Batman pake topeng kan supaya nggak ketahuan dia siapa, kalo dia ngaku nanti jadi Iron Man kan? Beda dunia. Inti dari diskursus di sini yang saya tangkap adalah, kami yang menulis editorial tersebut tidak menghargai usaha kawan-kawan yang setengah mati memperjuangkan Record Store Day, dan bahwasannya konteks yang kami berikan tentang RSD Internasional salah adanya, tidak sesuai dengan konteks perjuangan komunitas di Indonesia.

Tulisan ini tidak berusaha membela argumen editorial itu, atau menyalahkan balik. Saya tahu isu ini sudah basi dan kebanyakan orang Jakarta gampang move on soal wacana tapi sulit move on soal cinta. Sementara saya kebalik. Saya gampang move on soal cinta dan sulit move on soal wacana. Itu hal yang bolehlah saya anggap sebuah berkah dari Allah SWT. Jadi anggaplah dua argumen itu benar dan editorial itu salah. Anggaplah ya, editorial itu seperti hipster makan hipster, jeruk minum jeruk. Anggaplah diskusi di grup FB itu wejangan yang baik, bahwasannya kami yang menulis editorial tidak menghargai usaha orang yang berpikir sederhana untuk menguatkan komunitas.

Lalu kalau kalah, kenapa lagi harus bicara soal ini? Sederhananya begini, untuk saya pribadi tulisan editorial itu adalah sebuah rencana jangka panjang dalam melihat Indonesia dari jauh. Itu adalah usaha untuk latihan dan memulai menjadi satelit, bukan menjadi warga jakarta yang tinggal di indonesia. Saya sudah punya kecurigaan tentang kelemahan moda produksi kelas menengah Jakarta (yaitu kelas sosial saya sendiri) dalam membuat gerakan kultural yang humanis dan empatetik.

Humanis artinya memperhatikan aspek pengembangan manusia. Dalam kasus RSD, kritik kami sebenarnya sederhana. Kami ingin mengingatkan band-band indie untuk berproduksi seenak jidatnya tanpa mengejar deadline RSD. Kami juga ingin mengingatkan supaya gerakan tersebut kembali ke fitrahnya, yaitu mendidik konsumen supaya tidak apolitis dan konsumeris. Jadi gerakan yang guyub sebelum terlambat dan jadi terlalu besar. Nah, saya ingatkan lagi kalo dalam artikel ini anggaplah saya salah dan mereka benar. Minimal kalo saya salah, saya bisa kasih ide orang lain bikin RSD tandingan yang salah itu. Acara kecil di garasi dan undang teman-teman sendiri bukan buat jualan, tapi buat berbagi ilmu. Ajang pendidikan begitu.

Empatetik maksudnya gerakan sosial yang memperhatikan hajat hidup orang-orang yang tak punya privilise yang sama seperti kelas menengah saya. Kota Jakarta hari ini dipenuhi dengan kelas menengah baru, kebanyakan pendatang generasi kedua. Sementara yang sudah lama tinggal sedang digusur-gusur demi kepentingan bersama–katanya. Supaya tidak banjir, supaya kotanya rapih, dan lain-lain. Tentunya mereka-mereka ini kebanyakan orang miskin dengan pekerjaan informal, yang tidak cocok untuk ada di kota megapolitan Jakarta dan harus menyingkir ke pinggiran. Gentrifikasi semacam ini bukan hal baru dalam membangun kota. Jakarta terhitung terlambat 40 tahun melakukannya secara berkesinambungan. 40 tahun yang lalu kota-kota di negara Asia yang sekarang maju melakukan itu. Tentunya waktu itu rezim cukup otoriter dan militer cukup kuat. Ditambah banyak bantuan dari luar negeri berupa utang dan investasi. Sayangnya Jakarta gagal melakukan gentrifikasi itu atas alasan-alasan yang harus dikaji lebih jauh. Saya curiga karena kondisi politik yang cenderung stabil di permukaan tapi berantakan di balik layar. Termasuk kesalahan besar Orba yang tidak menyiapkan SDM kritis yang cukup untuk masa depan sehingga akhirnya hari ini banyak orang miskin dan bodoh di tengah kota.

Hubungannya apa masalah ini dengan RSD atau gerakan hipster Jakarta? Nggak ada hubungannya, makanya jadi masalah (buat saya). Kenapa bisa nggak ada hubungannya? Kemana pada sifat-sifat pemberontak dan anarki demi kemakmuran rakyat yang dulu digadang angkatan-angkatan yang sekarang sebagian jadi gendut karena korupsi dan sebagian tambah kurus karena terus jadi aktivis yang nggak kaya-kaya dan lari ke pinggiran untuk bikin gerakan-gerakan marjinal. Mereka sudah menyerah dengan kota, seperti saya juga lama-lama menyerah dengan Jakarta.

Akhirnya saya naik level eksperimen kedua: saya tidak mengincar hipster, saya mengincar kelas menengah secara umum. Test case: saya menulis soal Ojek vs Gojek di blog ini dan banyak yang memuji, tapi juga banyak yang menghujat dan salah paham. Tapi saya pikir, oke mereka mau berpikir dan mau membaca soal topik ini. Lalu saya menulis yang lebih kompleks lagi untuk jadi dasar pertimbangan, ternyata tulisan kompleks seperti biasa akan mengambil lebih sedikit pembaca. Toh kebanyakan mereka tak mau berpikir. Saya ingat tulisan saya soal Sitok Srengenge dulu disebar di Kaskus dan kebanyakan komentarnya adalah, “adeeehh kepanjangan.” Well, kalo saya bikin pendek nanti dibilang ‘jump to conclusion‘, bikin panjang yang baca ngeluh. So fuck them lah. hahaha. Nulis-nulis aja.

Eksperimen kedua ini paling tidak mengonfirmasi tesis utama saya soal gerakan sosial kota jakarta yang kebanyakan jauh dari tindakan humanistik dan empatetik pada kotanya sendiri. Yang sering malah gerakan yang humanistik dan empatetik pada periphery yang jauh seperti sumbangan untuk Gaza, Rohingya, jual tomat untuk petani dll. Ini tidak salah dan perlu ada. Tapi yang saya mau omongin itu gerakan yang jarang ada: gerakan membantu yang di periphery-nya sendiri membantu ojek pangkalan, pendampingan hukum terhadap orang tergusur, membantu memajukan pasar tradisional dengan membuatnya tetap tradisional dan bukan menjadi mal tanpa AC, memperkenalkan musik-musik indie kepada kelas sosial menengah ke bawah, dan lain-lain.

Yayayaya… ada yang bilang nggak semua hal harus politis. Yayayaya… saya cerewet, saya menghancurkan balon yang udah ditiup susah-susah sama orang. Yayayayaa… saya juga bukan siapa-siapa nggak banyak sumbangannya dan lain-lain. Yayayaya… saya kalahlah. Saya kalah dan di sinilah artinya menjadi hipster perjuangan.

Ada yang bilang, bagus banyak hipster wannabe. Nantinya mereka akan jadi hipster sungguhan. Yaitu hipster yang tahu banget soal apa yang mereka beli dan mereka pake. Konsumen tester. New is always better, and vintage is newer than ever. Its a start. 

Saya bilang, fuck that. Hipster wannabe itu jenis orang-orang yang harus diinisasi hidup. Buang-buang duit buat sesuatu yang mereka nggak tahu. Bedanya dengan hipster perjuangan–yaitu label yang saya dan beberapa kawan sematkan pada diri sendiri– adalah,kami nggak bakal beli apa-apa kalo nggak tahu, karena duit tabungan itu ngumpulinnya susah setengah mati dan kami dari kelas menengah yang sebenarnya lebih condong ke bawah. Nggak ada itu pembenaran,  bahwa mereka-tahunya-DIY-itu-beli-kaos-terus-dicoret2-sendiri-adalah-sebuah-awal-jadi-hipster peduli setan apaan yang dicoret-coret dan bisa dijual lagi kaos coretan itu kayak Picasso jual cubism. Pret. Plain stupid is just plain stupid. Hipsterdom need good critical minds.

Ngomongnya pake bahasa inggris-indonesia googlenya nggak dipake artinya kalian kalah, de, sama orang ndeso yang udah silang bibit genetik di indramayu. Itulah hipster perjuangan. Penari-penari reog di Magelang yang buka youtube untuk gabungin reog dan shaolin, itu hipster perjuangan. Kalian yang beli vinyl Chuck Berry tapi nggak paham Logika Johny B. Goode, anak kampung yang jago ngeblues mah dikerjain sama yang jual Vinyl. Mengutip Manan Rasudi tanggal 5/5/2015 pukul 10:56 PM waktu Washington DC, “Hipster perjuangan yang gue maksud adalah mereka yang berusaha menjadi hipster dengan segala keterbatasan yang ada. Jadi Ipod Man rather than vinyl addicts, beli kaos band KW atau kadang nyetak sendiri daripada ngimpor. Lo kudu ke Kaskus dulu. Usaha menjadi Hipster ditawar habis-habisan di sana.”

Tapi yah, kami nggak pernah bisa bangga menyematkan istilah itu di diri sendiri atau orang lain. Toh kami orang-orang kalah seperti mereka yang dipinggir-pinggir itu. Kami marah seperti tukang ojek pangkalan yang jarang disapa  dan sebel karena anak-anak muda tidak punya inisiatif mengajarkan Google Maps atau fb atau WA untuk reformasi bisnis komunitas kami. Kami seperti warga Kampung Pulo yang tinggal dari jaman Kumpeni dan dibilang menduduki tanah negara, nggak dikasih kompensasi kecuali rusun yang disuruh sewa 10 ribu per hari. Kami orang-orang konservatif vintage yang punya ikatan dengan tanah kami, dan mengerti rasanya dicabut dari tanah tumpah darah.

Orang kalah mau bangga apa sih? Tidak ada harapan buat Jakarta, kata seorang sahabat yang sekarang bikin film sama warga desa. Lebih baik dipinggirkan lah. Capek bicara sama orang-orang dengan hukum hegemonik supply and demand, pencipta pasar yang mau main Tuhan, dan birokrat yang sedang galak-galaknya menggusur demi membuat kota yang bebas banjir. Tapi saya setuju sama birokrat yang sekarang jadi gubernur itu soal ini: kalo nggak kuat hidup di Jakarta, pindah aja. Ya saya pindah deh. Sekarang ke Amerika, insyaallah pas pulang ke Magelang. Enak kok jadi orang kalah asal hipster perjuangan, Toh kedamaian adanya di kemampuan manusia membangun jiwa dan setting hidupnya sendiri, bukan di kemampuan kompetisi dan membuat kacau pasar orang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s