Racauan soal TK di I

Sumber Foto: Detik
Sumber Foto: Detik

Kalo tenaga kerja ahli dari luar udah masuk, bisa ngajarin orang sini, tapi orang sininya pas udah jago dibayar 1/10 tenaga ahli mah sama juga boong.

Terus lu pake nanya kenapa orang2 pinter Indonesia banyak yg ga punya nasionalisme dan pengabdian?

Status FB hari ini

Banyak keluhan kita-kita soal persaingan tak sehat antara pekerja profesional kelas menengah Indonesia, dengan mereka yang menyebut dirinya ‘expat’. Masalah inferioritas muncul dari karyawan sampai ke manajemen, yaitu melihat bahwa mereka yang berasal dari luar dihargai lebih dari yang lokal. Ini bukan hanya berlaku bagi bule, tapi juga bagi kawan-kawan lain dari Asia, seperti Filipina misalnya.

Saya nggak ingin ada sentimen anti asing atau pro pribumi, itu basi. Saya punya banyak sahabat pekerja kelas menengah yang berasal dari luar negeri, dari US, Australis, Inggris, Filipina bahkan Ethiopia. karena saya orangnya frontal, saya pernah langsung tembak beberapa dari mereka soal kegundahan hati saya. Saya bilang, “Gue sirik nih ama kalian, kenapa kalian dibayar jauh lebih gede dari gue padahal kerjaan kita kurang-lebih sama; bahkan kadang-kadang parahan gue.”

Ini adalah jawaban beberapa di antara mereka.

Seorang sahabat dari Amerika, S1 dan S2 ilmu biologi mengajar bahasa Inggris di sekolah National Plus. Selain guru, dia juga pernah ngeband bareng saya, dia bluesman, backpacker dan pacarnya model Indonesia yang cukup terkenal. Dia bilang gini: “Prend, umur gue 23, lebih muda dua tahun dari elu. Gue ke sini cuma buat nyari pengalaman aja. Sorry banget kalo gajilu lebih kecil dari gua, tapi kan bukan gue yang nentuin. Lagian lu liat aja: S1-S2 gue Biologi disuruh ngajar bahasa. Semester depan gue cabut kok mau lanjut backpacking.”

Doi dikasih apartemen sama kantor, gaji pake dollar, dan semester berikutnya dia cabut beneran ama ceweknya buat lanjut berkelana. Tapi kemanapun dia jalan di Asia selama dia Bule ganteng, dia cenderung aman lah. Dan duit gaji dia yang kelebihan itu jelas bisa buat foya-foya nggak kerja beberapa bulan bahkan kalo hemat bisa setahunan.

Seorang kawan lain dari Filipina. Dia ibu-ibu beranak satu, dan anaknya ditinggal di negaranya. Dia ke sini sama sahabatnya dan setelah dia settle setahun di sini, adik laki-lakinya ke sini juga. Dia bukan jadi pembantu di sini, tapi jadi Guru SD Internasional. Bahasa Inggrisnya bagus, dan dia memang lulusan kampus pendidikan yang lumayan ciamik di Filipina. Adiknya juga lulusan kampus yang sama, jurusan teater. Sebelum ke Indonesia, si Adik sempat jadi Aktor di Singapura sampe bosan. Kayaknya sih aktor salah satu teater di Universal Studios gitu. Gue ajukan pertanyaan frontal gue, begini jawaban si Kakak:

“Noiza, kami nggak mungkin dibayar pake rupiah. Kami punya tanggungan di rumah dan negara kami, dan rate rupiah itu nggak stabil. Kalo pake rupiah, dia harus selalu bisa ngejar rate pekerja internasional. Kami juga nggak mungkin dibayar pake Peso, karena itu juga nggak stabil. Jadi kalau sekolah ini mau kami di sini, mereka harus bayar pake dollar.”

Sementara ke adiknya, saya tanya: “Elu ngapain ke Indonesia. Di sini kaga ada panggung teater profesional. Lu mau kerja apa di sini?”

“Ngajar. Banyak sekolah international di sini. Gue udah keterima di tiga sekolah.”

FAK. Bukannya sirik, cuma sebel aja. Kemaren ada temen saya guru teater yang curhat kurang duit. Bukan cuma satu teman tapi TIGA teman. Ada juga kawan dari IKJ yang mau jadi guru sekolah internasional tapi nggak kesampean karena bahasa inggrisnya jelek. Sementara kalo pake bahasa Indonesia nggak nutup honornya. Dia akhirnya maen sinetron tuh. Terus terang, saya senang sih kerja sama-sama sahabat-sahabat migran ini dan saya mengagumi banyak hal dari mereka: mereka punya metodologi yang jauh lebih jelas daripada saya yang otodidak. Malah dengan pengalaman kerja yang sekarang saya melebihi mereka dibanyak hal–khususnya soal budaya murid-murid/mahasiswa saya yang kebanyakan orang Indonesia. Tapi akhirnya, secara rate gaji, saya nggak mungkin nyamain mereka.

Sahabat saya yang lain seorang PhD Cultural Studies dari Australia. Ibu-ibu umurnya sekitar 48. Dia punya cowok orang bali umurnya 21. Ketika saya frontal sama dia, dia juga frontal sama saya: “Heh, kid. Dunia ini rasis. Ratusan tahun kolonialisme sudah berhasil membuat bangsa-bangsa terkoloni jadi punya inferiority complex di negerinya sendiri. Itu warisan kami, kaum kolonial kaukasian. Tapi coba kalau kamu ke Australia dengan ijazah s2 atau s3 mu–dari kampus luar negeri yang diakui seperti kampus saya. Pasti rate gajimu sama atau bahkan melibihi saya. Only in your own country, you will be oppressed.”

Ini paling menohok. Bener banget kata tante bule penunggang koboy surgawi itu. Saya punya kawan lulusan kampus terkenal di Amerika, ngajar di kampus Negeri dengan gaji pas-pasan. Ada juga kawan lulusan S2 Eropa, ngajar di kampus negeri dengan gaji pas-pasan dan ga turun-turun tuh gaji berbulan-bulan gara2 ijazahnya dari Eropa belom sampe kemari. Tuh sohib ampe laporan kalo dia jadi fotografer kawinan buat biayain keluarganya–yaa tapi profesional dan pasti keren sih. Bukan yang ecek2 500rb full package dapet DVD.

Nah temen-temen saya yang akhirnya kerja di luar negeri, dengan ijazah2 luar negeri tersebut, akhirnya lebih betah di luar lah. Jaminan sosialnya ada, anak-anak sekolah gratis, nggak kaya, tapi jauh dari kemiskinan. Mereka jauh lebih dihargai. Pada akhirnya, orang-orang yang mau mengabdikan dirinya di Indonesia dengan segala kemampuan dia biasanya orang-orang yang (1) udah kaya tujuh turunan, atau (2) idealis dan agak gila, atau (3) ada ikatan dinas di Indonesia. Saya banyakan kenal yang kedua dan ketiga. Malah ada seorang kenalan saya yang lulusan s2 Eropa sampe meninggal miskin di Indonesia gara-gara pengabdiannya. Padahal kalau dia mau, dia bisa aja tinggal di Eropa dan makmur.

Yah, begitulah racauan hari ini. Dan pekerja-pekerja dari luar ini akan terus berdatangan. Semoga kita tidak pendek akal dan marah-marah bawa-bawa isu pribumi. Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah bagaimana caranya kita bisa bersaing dengan sehat dan menuntut hak kita sebagai WNI. Saya tahu ada perusahaan-perusahaan yang membayar gaji karyawannya (baik dalam atau luar negeri) dengan dollar. Ketika aturan dilarang pake dollar keluar, mau nggak mau mereka akan pake rupiah dengan rate dollar. Tapi dalam keadaan dimana rate dollar seperti nomor telpon makanan cepat saji ini, nggak tahu juga deh bakal gimana. Haha. Kacao lah.

Iklan

One thought on “Racauan soal TK di I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s