Cyborg dan Masa Depan

machina_a

Masalah besar manusia adalah ia ingin jadi Tuhan yang cuek pada ciptaannya dan membentuk hierarki bahwa ia yanh Maha Kuasa, dan ciptaannya yang Maha Dikuasai. Ego ketuhanan ini yang akan membuat manusia terus mandeg, ketika kita tak henti-henti mengobjekkan orang lain dan merebut kemanusiaan darinya, lalu lupa memakai empati kita. Toh, Hitler menganggap anjingnya lebih manusiawi daripada Yahudi.

Padahal salah satu kekuatan akal manusia yang paling mencengangkan adalah kemampuan untuk berempati, berbagi perasaan dengan sesama manusia, makhluk lain, bahkan benda mati yang ‘dimanusiakan’. Manusia bisa membunuh manusia lain dengan sadis ketika ia berpikir dan menganggap bahwa manusia lain bukanlah manusia seperti dirinya. Sebaliknya, seseorang bisa menangis karena kehilangan barang kenangan/memento, karena barang itu dianggap seperti manusia, bagian dari dirinya atau identitasnya,

Dalam dunia fiksi, hal yang paling sering dibahas secara ekstrim adalah pertanyaan: bisakah manusia tetap menjadi manusia ketika ia sudah membuat makluk lain yang adalah proyeksi dari dirinya sendiri: ketika manusia telah membuat AI (Artificial Intelligence). Salah satu awal mula narasi ini adalah Frankenstein karya Mary Shelley, yang menceritakan tentang seorang mahasiswa bernama Victor Frankenstein yang berhasil membuat manusia lain. Victor membenci ciptaannya karena ciptaannya itu buruk rupa seperti monster, namun si ciptaan akhirnya belajar menjadi manusia, dan menuntut tuhannya untuk bertanggung jawab atas keberadaannya. Makhluk Frankenstein membunuh adik dan tunangan Viktor, agar bisa punya pengantin dan pendamping hidup. Viktor marah dan ingin membalas dendam, hinga akhirnya ia mati di Kutub, sementara makhluk buatannya kehilangan arah tujuan.

Intan Paramaditha dalam skripsinya pernah membahas karya ini dari sudut pandang feminisme. Ia melihat bahwa monster Frankenstein seperti perempuan yang dibuat laki-laki hanya untuk ditolak kemanusiaanya. Frankenstein dengan segala kualitas femininenya–sensitif, penuh kasih sayang, dibenci setengah mati oleh pria yang membuatnya, ditolak oleh masyarakat, seperti halnya perempuan berpikir pada masa itu. Frankenstein adalah pioner plot kisah futuristik AI, dan ramalan bagaimana kira-kira kita menerima makhluk yang menjadi proyeksi kita: bagaimana ketika kita menjadi Tuhan.

Bicentennial Man, film yang dimainkan oleh Robin Williams punya plot yang beda dari kebanyakan science fiction bertema A.I. Ia lebih positif. Ia robot bergender lelaki yang awalnya jadi pelayan, lalu lama-kelamaan dengan usaha keras akhirnya bisa menjadi manusia, bahkan menikah dengan cucu majikannya. Film arahan Christopher Colombus ini juga sebenarnya pesimis melihat manusia–menurut film ini, butuh waktu ratusan tahun sampai robot “Andrew” bisa menjadi manusia: yaitu ketika umat manusia sendiri sudah sampai ke tahapan akal humanitarian yang sempurna: menerima android sebagai sesama manusia. Film ini adalah sebuah pengecualian, karena banyak film lain justru mengikuti Frankenstein.

A.I. arahan Stephen Spielberg, memperlihatkan tokoh robot yang diciptakan hanya untuk mencinta dan dependent, disia-siakan manusia. Ia seperti Pinokio yang ingin menjadi manusia, tapi berakhir tragedi ketika menemukan bahwa ia takkan pernah jadi manusia. Berbeda dengan Bicentennial Man, dimana peradaban manusia menjadi berkembang baik, AI justru berakhir dengan munculnya makhluk baru, jauh setelah manusia punah. Haley Joel Osment menjadi robot David yang dibangkitkan dari kematian oleh para Alien dan dikabulkan permintaanya untuk menjadi manusia selama sehari saja.

The Matrix trilogy dan Animatrix, membawa A.I. ke dunia distopia, pemberontakan robot, dan akhir dari manusia. Ini sebenarnya ide lama yang berasal dari banyak anime Jepang dari Serial Experimental LAIN dan Ghost in The Shell. Pemberontakan robot ini juga menjadi plot Urasawa Naoki ketika ia meremake Astro Boy dalam komik Pluto. Intinya robot memberontak karena mereka sudah jadi manusia: sebuah tema lama soal kelas dan kemanusiaan yang terus diulang-ulang semenjak film Metropolis karya Fritz Lang (1927) jadi hit.

Sampai film terbaru, Ex Machina (2015), masih menggunakan plot dan ide yang kurang lebih sama. Secara spesifik Ex Machina punya gabungan wacana antara kelas dan gender: karena tokoh sentral Ava adalah perempuan. Film ini punya argumen-argumen kontemporer yang bagus berkenaan dengan gender dan marxisme: bahwasannya manusia akan punya lebih banyak power ketika ia jadi komoditas yang berpikir. Seandainay Ava adalah kotak hitam, atau lelaki jelek, ia tidak mungkin memanipulasi Caleb dan Nathan.

Semua film dan fiksi itu punya masalah yang sama soal kemanusiaan kita. Bahwasannya kita sangat mungkin menganggap orang, binatang atau barang lain jadi manusia karena kita punya empati. Tapi, ada sisi lain di diri kita yang akan menolaknya, sisi ego dan ketakutan bahwa kita bisa dicopy, tidak otentik. Ketakutan bahwa posisi ekonomi dan politik kita bisa direbut, bahwa robot-robot, seperti perempuan, buruh dan LGBT bisa revolusi dan meracuni anak-anak kita. Kita takut suatu hari bahkan anak kita bisa kawin dengan robot dan cucu kita adalah gabungan antara robot dan orang, Cyborg.

Hampir semua film-film itu punya tesis yang sama dan sangat kuat soal kemanusiaan. Bahwa walaupun hari ini kemungkinan tiada batas, orang cacat bisa punya tubuh buatan, 3D printing bisa membuat organ, A.I. ada di dalam ponsel pintar kita, dan mungkin hari ini sudah ada manusia buatan yang berfungsi penuh, tetap ada hal-hal yang tidak mungkin. Israel dianggap tidak mungkin damai dengan Palestina (satu hidup yang lain harus mati), 1% orang kaya tidak akan mau distribusi kekayaan mereka atau mengubah bisnis menjadi lebih jujur tanpa kebakaran hutan, penggusuran atau pembunuhan aktifis, meyakinkan orang bahwa Global Warming itu benar-benar ada lebih sulit daripada bilang kita pernah ke Bulan.

Sulit memang, karena ketika diantara kita ada yang bekerja keras supaya orang di sekitar kita bisa jadi lebih cerdas untuk mewujudkan utopia kita masing-masing, ada juga yang menghancurkan berhala-berhala dan prasasti peradaban. Selama orang-orang tolol berkembang seperti kecoak, dan kita tidak bisa berkomunikasi serta saling belajar dengan aman, maka menara Babel akan selalu runtuh, dan kita akan selalu jauh dari Tuhan atau apapun itu yang dituju sains. Jangankan menganggap cyborg manusia, menganggap orang lain manusia saja, kebanyakan orang masih sulit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s