Badut Zarathustra dan Labirin Ruhlelana (Bagian V – Habis)

Theatre_Bizarre_2013_25
The Procession – The Death of A Clown (http://theatrebizarre.com/the-procession-the-death-of-a-clown-detail/)

Saya adalah badut Zarathustra yang terjerembab di tanah. Seluruh tulang saya remuk dan saya akan mati. Penonton tepuk tangan dan berteriak melihat kematian saya.

Akhirnya kita tiba pada akhir dari awal. Seperti yang saya bilang di permulaan tulisan ini, saya akan kalah. Karena semua yang baru anda baca adalah satu interpretasi dari semesta galaksi interpretasi lain. Jika anda percaya dengan interpretasi saya atas buku ini, maka anda sudah kalah sebelum pertarungan dimulai, anda sudah mati di pintu masuk labirin ini.

Paling tidak, izinkan saya memberikan satu alasan lagi kenapa saya dan anda mesti kalah. Pertama, kebanyakan isi buku ini dibuat menggunakan teknik automatic writing. Seperti lukisan post-ekspresionisme dan surrealisme, automatic writing adalah cara menulis menggunakan arus deras bawah sadar. Hubungan-hubungan sintaksis dan semantis dalam setiap karya tidak diketahui pasti oleh siapapun—baik pembaca atau kadang penulisnya sendiri. Cerita-cerita di sini menjadi sebuah karya bebas, dan seperti kata Roland Barthes, pengarang telah mati.

Namun perlu ditekankan, meskipun kita ada di zaman informasi bebas ini, dimana karya seni saat ini hanya berpaku pada konsep dalam mencari referensi dan mencampurnya dengan otentik, tapi tidak mudah membuat sebuah karya yang yang nampaknya kacau balau seperti buku yang akan anda baca. Bagi banyak orang awam—khususnya di barat, membuat karya seperti ini sama seperti sakit Schitzophrenic akut. Mari saya berikan sedikit ilustrasi tentang ini.

Antropolog Stephen dan Psikolog Suryani pernah melakukan penelitian soal dukun balian di Bali[1]. Mereka melihat fenomena perdukunan dengan cara yang berbeda dengan banyak peneliti psikologi dan psikiatri barat. Ketika psikolog atau psikiatri barat melihat trance dan kesurupan yang dialami dukun-dukun Bali sebagai sebuah gejala Schitzophrenia, Stephen dan Suryani menamakan trance dan kesurupan tersebut sebagai “autonomous Imagination”, imajinasi yang berjalan bebas di luar kendali kesadaran. Stephen dan Suryani melihat para dukun bukan sebagai orang sakit jiwa yang harus dirawat, tetapi sebagai bagian yang ditinggikan oleh masyarakat Bali. Para Balian ini memiliki hak dan kewajiban sosial untuk menolong orang.

Ruhlelana pun memiliki autonomous imagination tersebut dalam tulisannya, seperti juga Dali, atau Van Gogh. Kekacauan yang akan anda masuki nanti adalah kekacauan dengan metode—seperti yang sudah saya tulis di awal pengantar ini. Ilustrasi seniman lukis yang terakhir ini mungkin bisa menjelaskan dengan lebih gamblang: Jackson Pollock. Pollock adalah pelukis post-ekspresionis paling terkenal di Amerika. Dia dijuluki Jack the Dripper (Artiya Jack si tukang tetes, parodi dari pembunuh keji Jack The Ripper) karena teknik lukisnya yang terkenal. Ketika Affandi memakai teknik kuas yang tebal dan cap tangan manusia goa, Pollock secara lebih ekstrim tidak menyentuh sama sekali kanvasnya dengan kuas. Ia meneteskan dan mencipratkan cat di atas kanvas besarnya.

Namun semua tidak semudah itu. Pollock bisa berjam-jam melihat kanvas kosong untuk melihat bentuknya, mengatur penempatan kaleng-kaleng cat untuk persiapan melukis, agar cat tidak menetes di tempat yang salah. Semua begitu rapih dan terencana dengan baik. Setelah itu mulai melukis dengan otomatis. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun dalam proses ini. Dan lukisan Pollock, barangkali adalah lukisan yang tak mungkin bisa dicopy atau ditiru, karena detil-detilnya tak mungkin diikuti oleh teknologi saat ini. Seperti juga tulisan Ruhlelana, yang takkan mungkin bisa anda ikuti gayanya. Karena esensi dari Ervin Ruhlelana sudah ada secara genetik dan dibentuk pengalaman subjektifnya.

Jadi selamat memasuki labirin, dan biarkan saya mati.

pollock mist
Gambar 9: Jackson Pollock, Number 1, 1950 (Lavender Mist). Cat Minyak, Enamel & Aluminium di kanvas. 221 cm x 229 cm. National Gallery of Art.
pollock drip
Gambar 10: Jackson Pollock dan Teknik Tetesnya.

[1] Stephen & Suryani, “Shamanism, Psychosis and Autonomous Imagination.” Cultural Med Psychiatry; 24 (1): hal 5-40. Department of Sociology, Politics, and Anthropology La Trobe University, Victoria, Australia. Maret 2000.

Kembali ke bagian IV
Kembali ke awal bagian I

Iklan

One thought on “Badut Zarathustra dan Labirin Ruhlelana (Bagian V – Habis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s