LGBT dan Kegagalan Dua Universitas Mencetak Lulusan Yang Bisa Menulis

Pendek saja, ini tulisan reaksi yang agak ad hominem, untuk tulisan lain di selasar.com dari Dr. Fithra Faisal Hastiadi SE. MSE. MA, LGBT dan Kegagalan Sebuah Bangsa. Pak Fithra ini orang hebat! S1 di UI  dan S2 dan S3-nya di Keio dan Waseda University, Jepang. Dengan mengantungi titel kampus-kampus mentereng, saya sangat curiga bahwa akunnya di Selasar dibajak orang. Ada beberapa permasalahan penting di sini.Tulisan soal LGBT dan Kegagalan Sebuah Bangsa itu strukturnya kacau balau. Mari kita mulai dari kalimat tesisnya.

“Di sini, saya akan memberikan sebuah analisa empiris sederhana berbasis data yang valid dan mudah diakses. Model estimasi saya terdiri dari 27 negara Uni Eropa dengan variabel yang diperoleh dari World Government Indicators (WGI) dan EU LGBT Survey.”

Jadi kita berharap akan menemukan (1) analisa empiris sederhana berbasis data yang valid dan mudah diakses dan (2) estimasi yang terdiri dari 27 negara Uni Eropa dengan Variabel dari WGI dan EU LGBT Survey.

(1) Analisa Empiris berbasis data yang valid dan mudah diakses.

Dalam tulisan tersebut sama sekali TIDAK ADA “analisa empiris berbasis data”, maka kita tidak bisa tahu sama sekali apa data itu valid atau tidak. Ini adalah data yang dipakai pak Doktor: “…pada tahun 2060, negara-negara ini akan kehilangan hampir setengah penduduknya karena kondisi rapid aging society. Mau bukti? Lihat saja isi timnas Jerman dan Perancis yang mulai dari mulai penjaga gawang sampai strikernya didominasi oleh keturunan imigran. Lihatlah nama-nama mulai dari Zinedine Zidane, Marcel Desaily, Thierry Henry, Mehmet School hingga yang teranyar semisal Mamadou sakho, Eliqoium Mangala, Mesut Ozil, Ilkay Gundongan dan Lukas Podolski.”

Apanya yang basis data Dok? Okelah, demi argumen saya anggap itu data, tapi sumbernya dari mana? Dr. Fithra menuduh bahwa LGBT adalah sebab Jerman dan Perancis banjir imigran. Padahal imigran ramai karena Jerman sangat membuka diri untuk imigran (lihat kasus pengungsi Suriah dan Kebijakan Merkel) dan Prancis membuka lebar-lebar negaranya untuk para penduduk bekas negara jajahan seperti Al Jazair atau Morocco. Perubahan pola keluarga dan turunnya populasi disebabkan adanya perubahan moda produksi ekonomi, kemajuan teknologi, keterbukaan seksual dan individualisme (Lihat kajian Prof. Robert Cliquet dalam website PBB, unduh PDF Major Trends Affecting Families in the New Millenium).

(2) Estimasi dari 27 negara Uni Eropa dengan variabel yang diperoleh dari WGI dan EU LGBT Survey

Ini yang keren. Selain Jerman dan Prancis yang datanya tidak jelas itu, Doktor kita sama sekali tidak menyebutkan negara Uni Eropa lain. Dia malah menyebutkan:

“Tengok saja Tiongkok. Negara ini terkenal akan one child policy-nya. Kebijakan itu terbukti sukses menekan populasi Tiongkok.”

Saya perlu pencerahan, sejak kapan Tiongkok menjadi bagian negara Uni Eropa? Atau kasih tahu saya, sejak kapan pak Doktor mengubah kalimat tesisnya dari Uni Eropa ke negeri Cina? Apalagi Cina sedang krisis maskulinitas dan mereka Anti-LGBT dengan alasan nasionalis-komunisnya yang memang masih sering fasis.

Lalu pak Doktor bilang, “Jika ustadz dan pendeta tidak dapat meyakinkan para pemangku kebijakan, mudah-mudahan tulisan ini dapat menuntun mereka untuk dapat berpikir lebih jernih dan rasional, bukan sekedar pakai ilmu kira-kira.”

Oke pak Doktor. Semoga pemangku kebijakan bisa yakin setelah membaca tulisan ala Vicky Prasetya ini. Nah, apa bisa bapak beritahukan sekarang hubungan tulisan bapak dengan judulnya? “LGBT dan Kegagalan sebuah bangsa.” Bangsa siapa? Bangsa yang mana? Karena kalau kita pakai pertumbuhan ekonomi sebagai alat ukur, jelas-jelas bangsa Indonesia yang religius dan moralis ini tingkat ekonominya JAUH di bawah negara-negara pendukung LGBT. Kalau bapak Doktor yang terhormat mau bilang “…jika melihat faktor pemerintah, setiap 1 persen kenaikan kecenderungan pro LGBT, maka terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.1 persen.” SUMBERNYA mana? Kok pake ilmu kira-kira, pak? Katanya tadi harus jernih dan rasional.

Ah, sudahlah. Saya siapa sih. Cuma Antropolog yang kerjaannya main di kampung. Tidak ada apa-apanya dibandingkan pak Doktor yang lulus dari Universitas Keio dan Universitas Waseda Jepang. Paling tidak Waseda University masih membuka dialog dan melihat ke depan soal masalah ini dengan memberikan penghargaan pidato pada siswa yang membahas isu LGBT. Tidak seperti UI yang malah menyuruh SGRC mencoret nama institusinya. Pasti Almamater Bapak di Jepang sana bangga ya, ada alumninya yang jago mengarang bebas.

Iklan

2 thoughts on “LGBT dan Kegagalan Dua Universitas Mencetak Lulusan Yang Bisa Menulis

  1. “Ah, sudahlah. Saya siapa sih. Cuma Antropolog yang kerjaannya main di kampung. Tidak ada apa-apanya dibandingkan pak Doktor yang lulus dari Universitas Keio dan Universitas Waseda Jepang. Keio dengan terbuka menerima mahasiswa minoritas dan LGBT dan Rektor Waseda memberikan Presidents Award pada LGBT Center Waseda University. Tidak seperti UI yang malah menyuruh SGRC mencoret nama institusinya. Pasti Almamater Bapak di Jepang sana bangga ya, ada alumninya yang jago mengarang bebas dan anti-LGBT.”

    Saya lulusan Keio dan Waseda. Di 2 univ yg anda sebutkan tersebut tidak punya dukungan resmi utk LGBT. Bisa dilihat di tautan yg anda kutip, di tautan pertama malah yg dianjurkan adalah Univ Okayama (dan bukan Keio) kalau ingin diterima sebagai LGBT. Lalu president award yg diberikan Waseda sebenarnya adalah lomba pidato/presentasi, jd bukan lomba penerimaan sebagai LGBT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s