Terkait Kartini Kendeng, Dian Sastro Masih Anak Filsafat

Jadi ceritanya, Dian Sastro mengirim surat klarifikasi atas artikel Kompas yang sembarangan menulis ulang opininya tentang ibu-ibu Kendeng yang menyemen kaki mereka. Saat itu Dian sedang ada di acara bertajuk, “Spirit Kartini dalam membangun bangsa yang mandiri.” Dari judulnya saja kita tahu bahwa itu acara emansipasi perempuan, dan karena event Kartini Kendeng baru berjalan, wajar jika ada penonton (bukan wartawan) yang bertanya soal acara itu.

 

dian
Foto: Eva Mariani Sofian

Sebagian kawan-kawan saya di sosmed bilang, bahwa klarifikasi Dian di atas, masih bias gender dan kelas menengah kota, karena ia mempertanyakan “Ketidakhadiran laki-laki” dalam demonstrasi semen ibu-ibu Kendeng. Sebelum saya menanggapi isu ini, ada baiknya saya tekankan kalimat Dian, “Saya kurang paham atas peristiwa tersebut dan belum mendalami duduk permasalahannya.”

Dengan dasar ketidak-tahuan konteks ini, ia bertanya balik dalam kerangka emansipasi acara Spirit Kartini tadi, kenapa laki-lakinya tidak ikut disemen? Kenapa perempuan yang disemen? Dan ini pertanyaan yang menurut saya penting:

“Apa karena dalam hal ini, kaum perempuan tidak terikat dari segala hal yang berbau politik dan hierarki patrialis, sehingga di luar hal-hal domestik dianggap lebih bebas dan netral dalam mengungkapkan pendapat dan angkat bicara ya?”

Ini pertanyaan standar dan dasar dalam feminisme, menyangkut representasi perempuan sebagai makhluk apolitis. Jangan lupa, ibu-ibu yang disemen secara simbolik mengandung sebuah kekerasan terhadap perempuan, sama seperti mitos-mitos siksaan simbolik kepada perempuan yang lain dalam budaya Hindu-Jawa: dari Drupadi yang ditelanjangi Kurawa, sampai Shinta yang meloncat ke api untuk membuktikan kesuciannya. Secara tekstual-kultural, perempuan yang disemen lebih “Nampol” daripada laki-laki yang disemen. Ini memprihatinkan, ketika kita bicara soal kesetaraan gender. Namun sebagai pertunjukan, ia cocok dengan masyarakat patriarkis kita yang cepat luluh kalau ibu-ibu yang bergerak. Karena bagaimanapun, demonstrasi adalah pertunjukan, semurni apapun niatnya; pertunjukan harus aktual.

lepas-belenggu-semen
Foto: Omahkendeng.org

Menurut saya hal ini sangat wajar ditanyakan orang yang terlatih secara filsafat tapi miskin pengalaman lapangan. Apakah ini bias? Ya, jelas, tidak ada pendapat/pertanyaan di dunia ini yang tidak bias. Maka itu penting untuk ilmuan dalam membuat disclaimer metodologis, bahwa “Kemungkinan saya akan bias, karena….” Dian sudah melakukan itu ketika dia bilang, “Saya kurang paham dan belum mendalami.”

Dia bicara sebagai seorang intelektual kritis berlatar belakang filsafat, pertanyaannya prosedural bias ilmuan feminis. Tugas kita sekarang adalah berdialog, supaya dialektikanya jalan. Lagipula posisi Dian Sastro sebagai “mitos” dalam ranah budaya pop Indonesia, membuat kalimat apapun yang dia keluarkan mengenai sebuah isu, sudah pasti bisa memboost-up isunya. Masalah kalimatnya seperti apa, tergantung pembacaan masing-masing–karena tidak semua orang punya kapasitas untuk mengerti studi gender. Untuk soal wacana ini kita harus paling tidak berterima kasih pada Dian Sastro.

Jika Anda mau tahu pertanyaan yang sangat-sangat bias kelas menengah kota dan modernis, Anda bisa melihat pertanyaan Ganjar Pranowo atau Goenawan Mohammad soal siapa yang desain demonstrasi dan “Can’t Subaltern Speak?” Lalu biarkan bapak-bapak “aktor intelektual” dalam video ini bicara. Sekalian menjawab pertanyaan Dian Sastro tadi soal kemana bapak-bapaknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s