Politickle: Antara Trump & Rizieq

Secara global, salah satu ketakutan terbesar adalah bangkitnya kembali fasisme, rasisme, primordialisme dan chauvinisme di dunia. Menjadi fasis, rasis, primordial, dan chauvinis, bagi siapapun yang dididik etika moral dasar, jelas tidak benar. Tapi tahun ini suara-suara parau diberi ruang yang luar biasa besar oleh media massa dan media sosial. Karena formula lama, Bad News is Good News, yang diprakarasai oleh rating dan click bait kapitalisme internet, kini mencapai titik kulminasinya yang paling parah dalam berita pelintiran dan hoax.

Semua yang aneh dan lucu tiba-tiba jadi serius. Filmmaker Michael Moore tersentak pada kenyataan ini, hingga ia membuat drama pertunjukkan Trumpland, menghimbau agar masyarakat lebih serius menanggapi Donald Trump, yang ia anggap lebih jitu membaca keadaan Amerika Serikat yang sedang morat marit menghadapi kesenjangan sosial dan pendidikan. Perkiraan Moore benar, Trump menjadi presiden terpilih, walaupun kalah suara–karena ternyata Demokrasi Amerika ada di belakang Indonesia. Mereka tidak pernah benar-benar memilih langsung presidennya, Trump dimenangkan oleh Electoral College, sekelompok orang yang ‘mewakili’ populasi negara-negara bagian. Orang-orang ini tidak mewakili rakyat sepeti halnya parlemen, karena itulah banyak demonstrasi di Amerika akhir-akhir ini yang tidak mengakui Trump sebagai presiden mereka.

Saya jadi ingat kritik Hae Joon Chang tentang doktrin liberalisme barat. Menurut Chang, negara-negara macam Amerika dan Inggris, ditenggarai oleh Bank Dunia dan IMF berusaha membuat negara-negara berkembang mengikuti kebijakan ekonomi dan politik yang mereka desain tapi tidak pernah mereka alami sendiri. “Do what we say, don’t do what we did,” kata Chang meniru omongan ekonom liberal macam Milton Friedman. Namun berbeda dengan Chang, yang memandang doktrin liberalisme macam itu murni negatif, saya malah melihat sisi positifnya untuk Indonesia saat ini: bahwasannya presiden kita masih dipilih oleh rakyat yang ‘riil’, sementara kekuatan politik macam electoral college Amerika, tidak terlihat jelas di sini. Tapi bukan berarti tidak ada kekuatan lain selain suara rakyat di Indonesia. Untuk menang seorang capres harus punya backingan politik. Dalam konteks budaya kita, backingan ini adalah hantu-hantu feodal berwujud kartel dan oligarki politis yang bersembunyi dalam kemaluan mereka terhadap negara-negara maju yang mendoktrin demokrasi (baca: Barat). Kita bangsa yang memang jagonya berpura-pura, sementara Amerika Serikat lebih sering main frontal dan pamer.

Konstellasi politik kita pasca 1965 memang selalu mengikuti Amerika–Ketika Amerika pintar kita ikut macam orang bodoh yang mau belajar, dan ketika Amerika bodoh seperti sekarang ini, kita seperti tak mau kalah: kita buat kebodohan jadi populer. Orang-orang yang selama ini kita anggap becandaan, tiba-tiba naik ke ranah politik mainstream. Sebut saja Habib Rizieq, yang dengan modal suara lantang dan omong kasar, dianggap titisan Umar bin Khattab di Indonesia–bahkan bagi beberapa orang yang saya kenal, lidah sang Habib lebih tajam dari pedang Khalifah Umar. Untuk yang satu ini saya sedikit setuju, karena lidah Habib Rizieq memang senjata yang lebih mutakhir dari pedang orang Arab jaman dulu–lidahnya bermata dua. Satu tajam menohok ke atas dengan kata-kata kasar yang diamini kaum kelas menengah ke bawah, satu tajam ke bawah menipu kelas yang mengamininya. Kenapa saya bisa bicara begitu? Anda baca saja tesis sang Habib yang menyebar viral di media sosial. Tesis  itu adalah penjabaran strategi politik yang jitu.

Rizieq

Rizieq menjelaskan pemaknaan-pemaknaan pancasila dari rezim ke rezim. Ia lalu mengambil satu potongan sejarah, piagam Jakarta, dan mengakuinya sebagai Pancasila yang murni: pancasila yang Islami. Dalam tesisnya ia menjelaskan bahwa ia dan FPI yang dipimpinnya sering bersebrangan dengan banyak golongan lain, dari golongan yang paling ia hina-dinakan, Sepilis (Sekuler, Pluralisme, dan Liberalisme), sapai golongan Islam konservatif sendiri sepeti Partai Keadilan (PK), yang lebih percaya pada Syariat Islam versi Piagam Madinah, berlawanan dengan Rizieq yang percaya pada Piagam Jakarta sebagai adaptasi piagam Madinah di Indonesia (Shihab, 2012).

Nama Rizieq yang menggema, terlebih lagi dalam kasus penistaan agama Ahok, membuat banyak orang di luar lingkaran simpatisan FPI yang minor itu, menjadi kesal. Kekesalan menjelma rasisme dan stereotipe terhadap Arab-Indonesia, khususnya golongan habib dan keluarga keturunan Nabi Muhammad di Indonesia yang bukan hanya Rizieq Shihab. Sastrawan Ben Sohib, misalnya, menuangkan kegalauan ini tanpa menyebut-nyebut nama Rizieq dalam tulisannya di tirto.id. Konteks ‘panasnya’ penggorengan Sang Imam Besar FPI itu, membuat saya pribadi merasa bahwa tulisan itu sedikit banyak diarahkan pada congor mulut Rizieq. Sohib, yang juga keturunan marga Shihab, seperti menghimbau orang agar tidak stereotipe dan rasis hanya karena ulah Rizieq yang doyan mengkafirkan orang.

Kembali ke hal yang menggelikan, FPI yang biasanya terkenal dengan ormas bersifat paramiliter yang sering main fisik dan jadi vigilante syariat Islam, beberapa bulan ini sering main jadi korban (play victim). Kini mereka sering berkoar bahwa mereka dizalimi, mereka digebuki preman, dan lain-lain. Bahkan ketika beberapa simpatisan Ahok balas menuntut Rizieq atas penistaan agama non Islam yang ia lakukan dalam dakwahnya–pasal yang sama yang menjerat Ahok–ia langsung berkilah jadi korban dan mengcopy paste semua langkah-langkah Ahok sebelum sang gubernur kejam, tukang gusur, dan tiran modernis itu disidang. Entah kenapa, langkah bela diri Rizieq ini sedikit banyak mengingatkan saya pada pidato Melania Trump yang plek-plekan meng-copy-paste pidato Michelle Obama. Lucu kan? Iya lucu, sampai Trump menang, bahkan dengan cara-cara menggelikan semacam ini.

Dari sini kita tahu, bahwa kemungkinan Rizieq menang dalam perjuangannya menerapkan Syariat Islam untuk muslim Indonesia masih ada. Dia sendiri membeberkan fakta dalam tesisnya, bahwa syariat Islam sudah masuk ke dalam berbagai ranah kehidupan sosial-politik-ekonomi masyarakat Indonesia. Dia memaparkan produk-produk hukum yang mengandung syariat Islam, kebijakan-kebijakan pendidikan yang didominasi agama Islam, serta banyak hal lain yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Seperti Trump, Rizieq paham politik kebodohan: bahwa kuasa politik adalah kuasa yang membutuhkan penyebaran imajinasi dan pengimanan terhadap imajinasi itu oleh massa. Ketika Rocky Gerung bilang bahwa negara memiliki peralatan paling lengkap untuk menyebarkan Hoax, ia lupa bahwa di zaman ini, perlengkapan yang lengkap itu tidak lagi milik negara. Perlengkapan itu adalah milik kaum aristokrat  oligarki politik, seperti Donald Trump atau para kaum borjuis Indonesia. Rizieq punya jalur ke sana dengan berbagai macam traktat politik yang ia buat bertahun-tahun selama FPI menjadi anjing penguasa dulu. Kini anjing itu telah diangkat menjadi pelayan, yang sudah boleh punya suara dan tidak boleh menggigit lagi. Hanya boleh menyalak kadang-kadang, dan bermain teraniaya, seperti layaknya film-film Motinggo Busye yang melibatkan pembantu dan majikan.

Namun, seperti Marx yang ia kritik dalam tesisnya, perjuangan Rizieq belum selesai dan sepertinya takkan pernah selesai. Toh ia dan FPI-nya, kini sudah masuk ke ranah-ranah yang dilupakan pemerintah, dari masalah orang miskin, sampai aktivisme tani dan lingkungan. Tak percaya, cek saja video profil pesantren Habib Rizieq di akhir esei ini. Pada akhirnya kita semua harus berjuang untuk mewujudkan dunia yang ideal untuk kita. Kebanyakan orang cukup puas dengan mewujudkannya di rumah bersama keluarga dan anak-anak yang cukup mereka kasih uang, makan, serta pendidikan agama. Sisanya, seperti saya, akan selalu berusaha mewujudkan dunia dimana hasutan Rizieq cuma jadi obrolan warung kopi yang bisa dibicarakan berapi-api dengan saudara dan sahabat-sahabat, menajamkan pikiran dan kadang urat syaraf, tapi habis itu kembali ngopi dan ketawa-ketiwi menunggu mati.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s