PENTINGNYA MENANGGAPI GAJ AHMADA SECARA AKADEMIS

#notetoself

Apa yang dilakukan Tirto ID, UGM, Museum Nasional dan kaum akademis menanggapi wacana Kesultanan Majapahit, sangatlah penting, jauh lebih penting daripada menertawakannya.

Begitupun usaha-usaha yang dengan sabar dan rendah hati dilakukan oleh Thomas Djamaludin, Kepala LAPAN, dan Neil deGrass Tyson, Juru Bicara NASA, menanggapi wacana populer soal bumi datar, alien, dan UFO. Kesabaran dan kejernihan pikiran harus dikedepankan hari ini, khususnya untuk membuka komunikasi pada kaum awam yang bingung (The Perplexed).

Sebenarnya usaha-usaha menjelaskan kepada kaum awam ini, terhitung terlambat dan selama ini dihambat oleh banyak hal: media yang bias, birokrasi dan aturan politik yang berpihak pada kuasa bukan ilmu pengetahuan, dan pembatasan akses terhadap teks pengetahuan demi kapitalisme akibat ketidakkreatifan dunia akademis dalam mengolah modal.

Belum lagi kesombongan kelas kaum intelektual menara gading, yang jarang turun lapangan dan merasa pandai di kandang akademiknya sendiri. Kerendahatian diperlukan sekali hari-hari ini untuk membangun hubungan antara akademik dan praktis, intelektual kampus dan akar rumput.

Hinaan-hinaan terhadap kepolosan dan kebodohan orang lain, sudah semestinya dihilangkan, digantikan dengan konsistensi dalam mengajarkan budaya argumen dan pola pikir kritis. Harus lebih banyak buku-buku serta hoax-hoax populer yang dibahas, diklarifikasi, dan didialogkan dalam kerangka yang egaliter. Buktikan kalau Anda ahli bukan karena titel akademik Anda, dengan bicara yang santun dan pantas mengenai hal yang Anda geluti setengah mati dengan keringat, darah, dan uang yang banyak.

Populisme harus diameliorasikan, dibuat positif. Doktrin bahwa mayoritas selalu salah, atau prinsip moral dari Musuh Masyarakat buatan Ibsen, harus dibuang jauh-jauh. Populisme bisa benar dan berakal sehat, kalau institusi-institusi pendidikan dan politiknya berjalan baik. Jangan bangga menjadi kaum intelektual yang minoritas: sedihlah! Jangan bangga bahwa kau sarjana, khawatirlah karena jumlahmu yang berkualitas sangat sedikit di negeri ini.

Bagaimana ketika populasinya bebal? Kebebalan populasi seperti tubuh yang jarang olah raga, harus dilatih. Dan tidak ada yang bilang ini tugas gampang. Hari ini sudah banyak alat bantu pendidikan: internet, video, smartphone. Nikmat apalagi yang mau kau dustakan, duhai intelektual? Kau sudah tidak perlu lagi fotokopi pamflet, cukup imitasi populisme dengan membuat broadcast whatsapp, atau cara-cara hoax menyebar. SEO dimaksimalkan.

Dan jangan lupa, generasi bebal ini akan berganti–konon mereka hobi beranak banyak, tanpa berpikir tanggung jawab. Itu murid-murid potensial, itu masa depan. Jangan dibuang-buang.

Maka mari berterima kasih pada Habib Riziq, Ahok, MUI, Herman Sinung, dan orang-orang yang menantang akal kita dan menunjukkan masalah-masalah sosial di sekitar kita dengan gamblang. Sesungguhnya mereka lebh berarti dari beberapa profesor yang mengejar karir Jenjang Jabatan Akademik semata dengan membuat buku dan paper-paper hanya untuk poin saja–dan tidak bisa dibaca luas karena hukum properti intelektual.

Buni Yani mungkin berkontribusi lebih banyak untuk menunjukkan masalah dalam Islam Indonesia, daripada banyak akademisi yang membuat Ben Anderson bertanya-tanya beberapa hari sebelum kematiannya, “kenapa kajian soal Islam sangat kurang di Indonesia, padahal negeri ini sangat membutuhkannya?”

Kerjaan masih banyak. Tidak usah banyak kaget, atau terlalu serius, Fokus saja.

Tabik!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s