Peradaban Sains Islam, Bagian IV: Membandingkan Islam dan Kristen

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

 

Disclaimer penerjemah: Bagian-bagian terakhir dari terjemahan tulisan ini mengandung sedikit bias orientalisme dari penulis. Saya sendiri sebagai Muslim Indonesia, tidak setuju dengan beberapa hal yang dipaparkan penulis, namun demi semangat belajar dan kesetiaan terjemahan, saya akan menulis apa adanya. Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang dipaparkan di sini, namun saya akan menulis sebuah kritik terhadap terjemahan ini setelah semua terjemahan ini selesai terbit. Saya harap ini juga bisa memicu diskusi lebih jauh yang berlandaskan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang logis dan berstandar akademik, sepeti teks asli Mr. Ofek. Gambar dan Caption tanggung jawab penerjemah.

tahmasp_humayun_meeting
http://sensiblereason.com

Kenapa Penelitian Akademis Gagal di Dunia Muslim

Tapi apakah Ash’arisme adalah akar masalah hancurnya sains Arab? Ash’ari menang dan Mu’tazilah kalah menunjukkan bahwa untuk alasan apapun, kebanyakan Muslim menganggap pemikiran Ash’ari lebih meyakinkan dan nyaman; ia pas sekali dalam mengungkung sentimen dan ide politis. Maka dari itu, banyak ahli teologi muslim nampak menerima pandangan occasionalis bahkan dari abad ke sembilan, jauh sebagai penemu Ash’arisme lahir. Dus, kemenangan Ash’ari melahirkan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang kecenderungan politik teologi dalam Islam.

Sebagai cara mengartikulasikan apa yang lebih dalam daripada debat antara Ash’ari dan Mu’tazilah, ada baiknya kita membandingkan dulu Islam dengan Kristen. Kristen mengakui pembedaan ranah pribadi dan publik dan (paling tidak secara teori) mengijinkan pengikutnya untuk menentukan kehidupan sosial-politiknya sendiri. Islam, sementara itu, tidak membedakan privat-publik, karenanya banyak hukumnya menjangkau detil-detil kehidupan pribadi. Dengan kata lain, Islam tidak mengakui perbedaan antara agama dengan politik: ia adalah agama yang menentukan aturan politik untuk komunitasnya.

c39altima_cena_-_juan_de_juanes
The Last Supper, dilukis oleh Juan de Juanes, c. 1562. Sumber: Wikimedia

Perbedaan antara dua macam iman itu bisa dilacak sampai perbedaan nabi-nabinya. Ketika Yesus adalah orang dari luar negara, dan tidak mengatur siapapun, dan agama Kristen tidak menjadi agama negara sampai beberapa abad setelah kelahiran Yesus, Muhammad bukan hanya seorang nabi, tapi juga pemimpin pemerintahan, seorang pemimpin politik yang menguasai dan memerintah komunitas religius yang ia temukan. Karena Islam lahir di luar Kekaisaran Romawi, Islam tidak pernah lebih rendah dari politik. Seperti yang dikatakan Bernard Lewis, Muhammad adalah Konstantin untuk dirinya sendiri. Artinya untuk Islam, agama dan politik saling tergantung sejak awal; Islam membutuhkan negara untuk menerapkan hukumnya, dan negara butuh basis dalam Islam untuk melegitimasi. Maka sejauh manakah politik Islam bisa memungkinkan penelitian bebas — yang seringkali dinilai subversif oleh pemerintah dan tradisi yang sudah mapan — di dalam institusinya?

Beberapa petunjuk bisa ditemukan dengan membandingkan institusi-institusi di abad pertengahan. Jauh sebelum menerima occasionalisme dan positivisme hukum kaum Suni, para sarjana Eropa berargumen secara eksplisit bahwa Injil berlawanan dengan hukum alam, dan tidak boleh dibaca secara literal. Filsuf-filsuf gereja berpengaruh seperti Augustine berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan rasio sudah ada sebelum agama Kristen; ia mendekati subjek penelitian sains dengan kewaspadaan, dan menyuruh orang Kristen untuk menggunakan sains klasik untuk membantu pemikiran Kristen. Galileo yang pernah ditahan rezim punya kalimat terkenal bahwa “tujuan Roh Kudus adalah untuk mengajarkan kita bagaimana cara masuk surga, bukan bagaimana surga bekerja,” menggarisbawahi ketahanan semangat sains di dalam kesalehan masyarakat Barat. Maka seperti yang diargumenkan David C. Lindberg dalam sebuah esei yang dalam kompilasi Galileo Ke Penjara dan Semua Mitos tentang Sains dan Agama (2009) [Galileo Goes to Jail and Other Myth about Science and Religion], “Tidak ada institusi atau kekuatan budaya dari periode patristic yang menggalakkan penelitian ilmu alam, daripada gereja Kristen.” Dan, seperti sosiolog dari Universitas Baylore, Rodney Stark, tulis dalam bukunya Demi Kemenangan Tuhan (2003) [For The Glory of God], banyak ilmuan pada masa revolusi sains di Eropa adalah pendeta Kristen atau Misionaris.

Penerimaan gereja dan penggalangan filsafat dan sains sudah ada sejak akhir Abad Pertengahan sampa masa modern. Almarhum Ernest L. Fortin dari Boston College mencatat di sebuah essai dalam kompilasi Kristen Klasik dan Tatanan Politik (1996) [Classical Christianity and the Political Order], tidak seperti al-Farabi dan para penerusnya, “Aquinas jarang dipaksa untuk mengikuti bias anti-filsafat dari otoritas eklektik Kristen. Sebagai orang Kristen, ia bisa belajar dan menulis filsafat tanpa ikut terlibat dalam argumen publik untuk membela atau melawannya.” Dan ketika seseorang seperti Galileo terkena masalah, karyanya terus ada dan diteruskan oleh orang lain; dengan kata lain, dedikasi institusi untuk penelitian sains sudah terlalu mengakar di Eropa hingga sulit dikontrol siapapun. Setelah  pertengahan abad tiga belas di Barat Latin, kita tahu tidak ada lagi persekusi instan pada siapapun yang mengajar filsafat sebagai bahan pembantu memahami Injil.  Di masa ini, “serangan terhadap rasio dianggap aneh dan tidak dapat diterima,” kata sejarawan Edward Grant dalam Sains dan Agama, 400SM sampai 1550M [Science and Religion 400 b.c. to a.d. 1550].

Kesuksesan Barat adalah sebuah topik yang dapat mengisi — atau sudah mengisi — banyak buku-buku tebal. Tapi perbandingan umum ini bisa membantu kita mengerti kenapa Islam secara institusi berbeda dengan Barat. Perbedaan paling penting dikatakan Bassam Tibi dalam Tantangan Fundamentalisme (1998) [The Challenge of Fundamentalism]: “karena disiplin rasio tidak sempat terinstitusionalisasi di Islam klasik, maka adopsi warisan Yunani tidak lama dalam peradaban Islam.” Dalam buku Munculnya Sains Modern Awal [The Rise of Early Modern Science], Toby E. Huff membuat sebuah argumen persuasif kenapa Ilmu Pengetahuan Modern muncul di Barat dan tidak di dunia Islam atau Cina:

Munculnya sains modern adalah hasil dari perkembangan peradaban berdasarkan kebudayaan yang secara unik humanistik dalam artian bahwa sains yang dianggap bid’ah dan inovatif bisa diterima, dilindungi dan dipromosikan walaupun berlawanan dengan ajaran agama. Sebaliknya, orang bisa bilang bahwa elemen kritis dari cara pandang sains secara secara sembunyi-sembunyi dimasukan dalam prasangka agama dan hukum di Eropa Barat.

Dalam kata lain, peradaban Islam tidak punya kebudayaan yang ramah terhadap kemajuan sains, sementara Eropa punya.

Perbedaan paling nyata ada di ranah pendidikan formal. Seperti kata Huff, kurangnya kurikulum sains di madrasah abad pertengahan membuat hilangnya kapasitas atau keinginan untuk membangun institusi yang secara legal otonom. Madrasah didirikan di bawah hukum waqaf, atau sumbangan, yang berarti madrasah secara legal berkewajiban mengikuti komitmen keagamaan dari pendirinya. Hukum islam tidak mengenal kelompok korporat, maka mereka mencegah harapan apapun untuk institusi seperti Universitas dimana norma akademik bisa berkembang. (Cina abad pertengahan, juga, tidak memilik institusi independen yang didedikasikan untuk pendidikan; semua tergantung dari birokrasi pemerintah atau negara). Institusi yang secara legal otonom hampir tidak ada di dunia Islam sampai akhir abad sembilan belas. dan madrasah hampir selalu menyingkirkan mata pelajaran apapun selain pelajaran Islam: tata bahasa Arab, al-Quran dan Hadist, dan prinsip syariah. Ini biasanya disebut “Pelajaran Agama Islam,” dan bertolak belakang dengan sains Yunani, yang secara luas dikenal sebagai ilmu “asing” (bahkan istilah “filsuf” dalam bahasa Arab “Falasi” sering dipakai secara negatif). Lebih jauh lagi, kekakuan kurikulum agama di madrasah membiasakan cara belajar hafalan; bahkan hari ini pengulangan, latihan hafal, dan imitasi — dengan hukuman bagi mereka yang mempertanyakan atau berinovasi –dibiasakan dari kecil di banyak tempat di dunia Arab.

Penyingkiran sains dan matematika dari madrasah memperlihatkan bahwa mata pelajaran-mata pelajaran ini “secara institutional dipinggirkan di kehidupan Islami abad pertengahan,” tulis Huff. Pelajaran seperti itu ditoleransi, dan kadang dipromosikan oleh beberapa orang, tapi tak pernah “secara resmi terinstitusional dan didorong oleh elit intelektual Islam.” Ini artinya ketika penemuan intelektual dibuat, penemuan tersebut tidak diangkat dan dibawa oleh siswa, dan tidak mempengaruhi pemikir-pemikir lain dalam komunitas Muslim, Tidak ada yang peduli pada karya Ibnu Rushid setelah ia diasingkan keluar Spanyol ke Moroko, misalnya — sampai orang Eropa menemukan karya-karyanya. Mungkin kurangnya dukungan institusional pada sainslah yang membuat pemikir Arab seperti al-Farabi lebih berani daripada sesama ilmuan di Eropa. Tapi itu juga berarti banyak pemikir Arab tergantung pada ijin dari pemerintah yang merek akrabi dan kondisi-kondisi sementara.

Perbandingan kontras lain, sistem hukum yang berkembang di abad dua belas dan tiga belas di Eropa — yang terkena pengaruh filsafat Yunani, hukum Romawi, dan teologi Kristen — menjadi penting dalam membentuk budaya filsafat dan teologi yang terbuka terhadap perkembangan sains. Seperti kata Huff, karena universitas di Eropa secara legal otonom, mereka bisa mengembangkan peraturannya sendiri, norma-norma akademik, dan kurikulum. Norma-norma yang mereka terapkan mengandung rasa ingin tahu dan skeptisisme, dan kurikulum yang mereka pilih berakar dari filsafat Yunani kuno. Di dunia Barat di abad pertengahan, semangat skeptisisme dan rasa penasaran menggerakan teologian dan filsuf. Itu adalah semangat “menyelidiki dan menggerataki segala sesuatu,” kata Edward Grant dalam buku Tuhan dan Rasio di Abad Pertengahan (2001) [God and Reason in the Middle Ages].

Perilaku penelitian semacam ini yang meletakkan fondasi sains modern. Dimulai di awal abad pertengahan, perilaku ini sudah menghasilkan inovasi di banyak seniman dan pedagang, bahkan dari kalangan yang tidak berpendidikan. Orang-orang awam ini berkontribusi ke pengembangan teknologi praktis, seperti jam mekanik (circa 1272) dan kacamata (1284). Bahkan di awal abad ke enam, orang Eropa berusaha membuat teknologi yang bisa menghemat kerja, seperti bajak dengan roda besar dan, nantinya, bajak tenaga kuda. Menurut riset oleh almarhum Charles Issawi dari Universitas Princeton, Inggris di abad sebelas punya lebih banyak lumbung per kapita dibanding di tanah otoman pada masa kejayaan kerajaan itu. Dan walaupun Barat punya percetakan sejak tahun 1460, dunia Islam baru mendapatkannya tahun 1727. Dunia Arab nampak lebih lambat dalam menemukan guna alat teknologi akademis. Contohnya, teleskop hadir di Timur Tengah langsung setelah penemuannya di tahun 1608, tapi orang Arab tidak tertarik menggunakannya hingga berabad-abad setelahnya.

Ketika sains di dunia Arab menurun dan mundur, Eropa secara rakus menghisap dan menerjemahkan karya-karya klasik dan saintifik, melalui pusat kebudayaan di Spanyol. Pada tahun 1200, Oxford dan Paris telah memiliki kurikulum yang mengandung sains Arab. Karya oleh Aristoteles, Euclid, Ptolemy, dan Galen, beserta kritik oleh Ibnu Sina dan Ibnu Rushid, semua diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Tidak hanya karya-karya ini diajarkan secara terbuka, mereka dimasukkan ke dalam program studi di universitas-universitas. Sementara di dunia Islam, hancurnya Zaman Keemasan sedang terjadi.

laurentius_de_voltolina_001
Salah satu universitas awal di Eropa, Bologna (1930an).

Bersambung ke bagian V.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s